Sabtu sore itu,

gue sama Mbak Pargi duduk di garasi

sambil nonton tv.

Dia nonton sambil sembahyang pegang tasbih,

gue nonton sambil baca buku Asian Brandingnya Ian Batey.

Terus, tau-tau Mbak pargi bertanya:

“Mas… aku tuh kalau nonton sinetron maunya gak ada iklannya.

Bisa gak sih…”

Gue jawab:

“Terus kalau gak ada iklan, siapa yang mau bayarin acaranya.

Bikin acara gitu kan pake duit…”

“Oh gitu ya… jadi ini iklan-iklan bayar?”

“Iya dong…”

Terus Mbak Pargi terdiam sejenak. Seolah berpikir.

Sambil tangannya terus menghitung tasbih.

“Mas, bisa gak ya… kalau iklannya dikumpulin aja…”.

“Huh?! Maksudnya?”

“Iya… jadi kalau pas acara nih ya… ya udah acaraaaaa terus.

Nanti pas iklan, iklaaaaan terus. Gitu!

Jadi yang mau nonton acara bisa nonton pol,

tapi iklannya tetep ada.”

Gue diem.

Yang Mbak Pargi inginkan adalah adanya

kebebasan untuk bisa memilih.

Mau nonton acara atau nonton iklan.

Mbak Pargi gak perlu tau soal seni interupsi.

Tapi acara televisi adalah hiburan paling dinantikan.

Satu-satunya bintang terang dalam kehidupannya yang sederhana.

Sehingga Mbak Pargi pun berhak menikmatinya secara utuh.

Senin-nya, gue ngantor seperti biasa.

Dan jadwal pertama gue adalah interview calon art director.

Dia dari sebuah agency kecil.

Gue tanya:

“Kenapa sih mau join OgilvyOne?”

Dia jawab:

“Saya pengen bikin iklan TV mas.”

“Kenapa iklan TV?”

“I need a recognition untuk bisa maju.”

DHUAR!!!!! Dunia gue meledak berkeping-keping dan setiap

kepingnya ada serpihan muka Mbak Pargi.

Dasar insan periklanan!

Cuma tau bikin iklan!

Cuma tau iklan itu: Above The Line dan Below The Line!

Si dungu siapa yang menciptakan istilah-istilah gak penting ini?!

Yang kayak gini kok ngomongin international award!

Gih sana! Jadi katak dalam tempurung! Gue gak ikutan!