Suatu siang, saya berkesempatan

untuk ngobrol dengan penari balet terkenal dari Rusia.

Beliau mengunjungi kampus saya.

Rasanya seperti bertemu dengan dewi.

Keriput di wajahnya tak mampu

menutupi keanggunan balerina sejati.

Setiap geraknya adalah keindahan.

Dan yang masih melekat di hati saya

adalah sorotan matanya. Berisi. Berbinar.

Seolah hendak berkata “aku lah bintang!”

Ada beberapa petuah

yang sampai saat ini saya simpan dalam hati.

Tadinya mau saya simpan sendiri.

Tapi kata pepatah cina, semakin banyak ilmu yang kita bagikan,

semakin banyak ilmu didapat.

“Penari yang hebat, akan tetap mencuri perhatian walau Ia dibalik panggung sekalipun.”

Kita sering ngamuk kalau ngerasa orang lain

mendapat kredit atas keberhasilan yang kita kerjakan.

“Kok CD naik panggung padahal gue yang bikin tuh iklan…”

Darling, tenang aja lah…

yang bagus akan kelihatan juga pada waktunya.

“Akan sangat menggelikan kalau penari mengikuti gerak lampu sorot. 

Biarkan lampu sorotlah yang mengikuti penari yang menari dengan sepenuh hati.”

Sering kita, orang iklan,

ngebet pengen cepet-cepet menang award dan menjadi sorotan.

Semua cara dilakukan. Sampe terkadang lupa untuk bekerja dengan sepenuh hati.

“Semua penari bisa melakukan gerakan yang sama.

Tapi alasan di balik gerakan lah yang membedakan.

Menari untuk diri sendiri atau untuk orang lain.”

Kita sering bikin kerjaan yang masturbatif.

Lupa kalau kita bikin iklan buat orang lain.

Padahal orang lain lah yang menilai kerjaan kita.

“Di atas setiap panggung hanya boleh ada satu primadona.

Yang lain cuma embel-embel.”

Di tengah persaingan orang iklan seperti sekarang…

jadi primadona iklan saya gak tau caranya.

Tapi kerja keras dan belajar sampe mampus sepertinya bisa memuluskan jalan.