Gereja yang luasnya gak lebih besar dari 1/5 lapangan sepak bola
dipenuhi seribuan umat yang hendak berdoa malam paskah.
Suasana khusuk. Diam. Tenang.
Hanya sesekali terdengar jeritan anak-anak.

Hampir semua umat tampak rapih dan siap mengikuti misa
malam kebangkitan Yesus Kristus itu.
Lagu-lagu pujian terdengar sayup-sayup
menambah syahdu suasana.

Tak ada si kaya dan si miskin.
Semua duduk bersama dengan harmonis.
Beberapa tampak mengenakan pakaian terbaiknya.
Kalaupun tidak terbaru.

Di luar hujan rintik-rintik.
Petir menyambar berkali-kali.
Beberapa kali hujan tiba-tiba deras
untuk kemudian mereda lagi.

Sudah 2 jam misa berlangsung.
Tampak beberapa dari umat mulai terkantuk-kantuk.
Mulut mereka masih mengikuti setiap bagian
tapi semua bisa melihat bagaimana pikiran mereka
sudah ke kasur masing-masing.

Beberapa dari anak kecil tampak tertidur pulas
di pangkuan ibu mereka.
Keringat membasahi wajah ibu dan anak itu.
Sementara yang muda-mudi mulai untuk berbisik-bisik
dengan teman-teman sebangkunya.
Bisa jadi mereka mulai mengatur strategi
untuk bisa meninggalkan misa
atau mengatur recana sesudah misa.

Nyanyian merdu dari paduan suara terbaik
memang membantu menyegarkan suasana.
Apalagi Halelujah Handel yang tak pernah absen
di setiap malam Paskah.

Konsentrasi yang sudah buyar.
Kekhidmatan yang berganti kesunyian.
Keheningan yang berarti kekosongan.
Alhasil misa malam Paskah menjadi ritual belaka.

Sampai kapan misa malam Paskah harus
sepanjang ini?
Kapankan gereja bisa memahami
bahwa konsentrasi orang tak bisa lebih dari 1 jam?

Gereja memang mungkin tidak dapat
bergerak sesuai zaman dan umatnya.
Karena ada prinsip yang harus dipegang teguh.
Untuk sebuah karisma.
Tapi bukankah sudah saatnya
untuk gereja menjadi lebih sensitif dan sensibel
dalam menyikapi umatnya?

Setelah 4 jam bergulat melawan kantuk dan bosan
akhirnya misa itu pun selesai.
Seperti sesudah disiksa, umat tampak tersenyum
meninggalkan gereja.
Apa yang mereka bawa pulang dari misa malam Paskah itu
untuk menjadikan kehidupannya lebih baik?

Di malam itu, Paskah yang harusnya
dimaknai sebagai keagungan yang magis
kehilangan rohnya.