Baru Minggu kemaren,
upacara pepindahan gue rampung juga.
Kepanikan gue selama 3 minggu itu
mengorbankan jari telunjuk gue yang teriris
waktu motong kabel televisi.

Di ruangan yang cuma terdiri dari 3 bagian
itulah gue akan melewati 1 tahun ke depan.
Ruang tidur, ruang tamu dan ruang belajar.
Temboknya dicat warna abu-abu putih senada.
Hanya di beberapa bagian ada yang berwarna
biru dan hijau sebagai aksentuasi.

Cerita tentang fisik apartemen itu sendiri
menurut gue gak terlalu menarik.
Tapi kehidupan yang ada di apartemen dan sekitarnya
yang pengen gue bagi di sini.

Kalau inget salah satu film Hollywood dimana
Meg Ryan sikat gigi sambil memandang apartemen di seberangnya.
Atau salah satu member Sex and The City yang
jatuh cinta sama cowok ganteng yang sering telanjang
di apartemen seberangnya juga.
Atau film Cintaku di Rumah Susun yang sampe sekarang
gue belum sempet menuntaskan VCD-nya.

Seperti itulah yang gue bayang dan rasakan malam Minggu kemaren.

Dari lantai 22 di sisi kiri gue melihat jendela-jendela berlampu.
Kelihatan seorang bapak gembul lagi baringan nonton televisi.
Sebagian cuma siluet orang. Sebagian lagi terang benderang.
Sebagian lagi ada jemurannya. Sebagian lagi gelap gulita.

Di sisi kanan gue melihat rumah gubuk rapat.
Dari atas terlihat atap mereka hampir roboh.
Ribuan lampu kecil dan besar,
tak bisa menutupi kesederhanaan hidup di bawah sana.

“Sejuta Kunang-kunang di Manhattan”,
ekspresi tepat untuk melukiskan yang mata gue alami.

Tak ada privasi berlebih di sini kalau dibandingkan
tempat tinggal gue sebelumnya. Rumah yang dikelilingi
tembok dengan jarak 10 meter antara rumah yang satu dengan yang lain.

Gue gak tau berapa lama gue akan tinggal di sini.
Sampai nanti saat di mana gue harus pindah ke tempat yang lain.
Gue gak tau ada berapa mata yang sedang melihat gue berdiri di balkon
malam minggu kemaren.

Yang gue tau, kalau ada yang melihat gue dari rumah-rumah
gubuk di bawah sana, pasti mereka ingin tinggal di tempat gue sekarang.
Sama seperti yang gue rasakan ketika melihat apartemen
Four Seasons di kejauhan. Pasti lebih nyaman dan berkelas tinggal di sana.

Ketika gue melihat ke bawah gue bersyukur.
Ketika melihat ke atas gue berharap.
Sekarang gue berdiri di antaranya.
Kalaupun memang harus berdiri di sini selamanya.
Bukan sekedar apartemen Four Seasons di kejauhan yang gue harapkan.
Tapi kenyamanan Four Seasons di dalam hati.