Image hosted by Photobucket.com

Tau toko es krim Ragusa yang deket Mesjid Istiqlal kan?
Nah di sanalah gue, DanRem, Sita, Rio dan Yuli
nongkrong malam minggu kemaren.

Ada dua pengamen yang lagi menjajakan jasanya.
Tapi dicuekin banyak orang.
Pun kalau ada yang minta lagu, lagunya gak sesuai sama suasananya.
Dewa lah, Peterpan lah, Padi lah…

Pas mereka sampe di meja kita,
buru-buru kita pesen lagu yang menurut kita sesuai.
Mengalunlah Bengawan Solo, Widuri, Sepanjang Jalan Kenangan,
St. Carolus, Di bawah Sinar Bulan Purnama dan Teluk Bayur.

Walau pengamennya gak terlalu jago nyanyi.
lagu-lagu itu tetap membawa senyum di bibir.
Rasanya kayak lagi muter tape antik di rumah kakek
atau bahkan bokap nyokap kita.

Bener-bener unik dan beda dari kebiasaan malam minggu.
Plaza Indonesia, EX, Plaza Senayan dan Citos.

Ada sesuatu tentang masa lalu.
Yang bikin kita jadi ngerasa lebih damai.
Bikin kita jadi ngerasa tenang dan ada sentuhan lucunya.
Malah kadang bikin kita nangis.

Padahal waktu dulu bokap gue muterin lagu
Sepanjang Jalan Kenangan terus menerus,
gue sebel dan bosen.
Apalagi lagu Widuri.

Tapi sekarang, lagu-lagu itu
punya sentuhan yang luar biasa.
Bahkan DanRem bilang, kalau sekarang
ada iklan dengan lagu demikian bisa
jadi lebih menonjol.

Masa lalu bisa jadi memang sudah berlalu.
Tapi bukankah ketika kita jalan menuju matahari,
ada bayangan yang selalu mengikuti kita?
Bayangan masa lalu itu pula yang kita genggam dan bawa bersama kita.
Bahkan bisa memberi ransum bagi kita di hari kini.

Salah satunya, ya ini tadi.
Di tengah kejenuhan dengan kekinian,
masa lalu jadi semacam oasis yang menyegarkan.
Setidaknya memberi semangat untuk
menjalani hidup kita di masa kini.

Sepanjang jalan kenangan,
kita selalu bergandeng tangan.
Sepanajang jalan kenangan,
kau peluk diriku mesra.
Hujan yang rintik-rintik,
di awal bulan itu
menambah indahnya malam syahdu.