Apa yang bisa lebih membahagiakan buat gue
selain melihat-lihat kerjaan iklan orang lain.
Yang bikin istimewa kali ini,
gue melihat karya-karya peserta Daun Muda 2005.

Di sebuah ruangan tua yang gue gak kira
masih eksis di Jakarta, iklan-iklan self promo itu
memenuhi tembok, kursi dan lantai.

Karena gue terlambat, alhasil beberapa karya
udah dalam posisi tertutup. Alias udah gugur.
Yang dianggap berpotensi menjadi finalis
udah tertata di atas meja.

Satu per satu gue buka-buka karya yang udah ditutup.
Karena sepertinya para juri senior itu belum dapet
10 karya yang bisa jadi finalis.
Dan kehadiran gue di sini adalah sebagai pemantau doang.
Otomatis gue tutup mulut aja.

Sampe akhirnya dengan kebaikan hati para juri-juri itu
gue malah diajak ngomong dan berpendapat.
Undangan yang bikin gue ngerasa sangat dihargain.
Dan gue pun berusaha untuk berpendapat
sebaik-baiknya.

Ketika itu pula,
gak tau kenapa gue bisa ngerasain
detak jantung yang berdegup kencang.
Yang pasti bukan detak jantung gue.

Setiap detik, detak jantung itu semakin keras
dan semakin banyak dan semakin banyak.
Semakin lama detak jantung itu
seperti hendak memainkan sebuah orkestra perkusi.

Sebuah orkestra yang memainkan irama
yang pernah begitu dekat, begitu akrab.
Irama itu perlahan menjadi lagu
yang menceritakan sebuah harapan.

Irama indah itu tiba-tiba meninggi
dan semakin meninggi.
Mendekati puncak awan, irama itu
perlahan menurun melintasi gunung dan ngarai.

Semakin turun dan rendah.
Menyusuri sungai kejernihan kecil.
Menghempas kerikil-kerikil
untuk akhirnya naik ke atas sebentar.

Sebelum akhirnya mendarat dengan lunak
di sebuah padang yang indah.
Lagu itu berhenti tepat ketika
matahari pagi mulai bangun tidur.

“Yang ini lebih fresh! Ngeliatnya seger banget gitu!”