Ketika dihubungi Concept untuk menulis tentang
kreativitas, saya teringat pada seorang sahabat
tersayang, Mak O’bin. Dia pernah berkata “walau kita
melihat hal yang sama, apa yang kita rasakan dan
pahami tak selamanya sama”.

Semakin hari semakin terasa kebenaran perkataannya
itu. Pergerakan manusia seiring zaman menggiring kita
menjadi manusia yang memiliki pandangan, pemikiran,
dan tentunya, perasaan yang berbeda.

Perbedaan itulah yang menyebabkan kita memiliki
kebutuhan yang berbeda-beda pula. Dan menurut saya,
kreativitas adalah jawaban akan setiap kebutuhan yang
berbeda itu. Kebutuhan yang pastinya untuk menjadikan hidup
dan kualitas hidup, lebih baik.

Pemilik Warteg, membutuhkan sesuatu untuk mengusir
lalat dari makanannya. Air dimasukkan ke dalam plastik
bening kemudian digantung persis di atas makanannya.
Jeng-jeng! Lalat pun tak lagi mendekat.

Kemudian menjadi inspirasi bagi jutaan pemilik
warteg lain mengikuti temuan itu. Dan ketika pengusaha
plastik menciptakan plastik khusus sehingga air mudah
diganti dan bisa dipakai ulang. Memudahkan hidup tak
hanya jutaan pemilik Warteg tapi juga pengusaha
plastik lainnya. Pelanggan Warteg pun kini bisa makan di
Warteg bebas dari serangan lalat. Pakai tangan sambil
angkat kaki ke kursi. Pasti jadi lebih nikmat!

Nah sekarang, mari kita bawa kantung plastik berisi
air tadi ke McDonalds. Apa jadinya? Pasti masuk ke
sampah! Karena tidak ada lalat di sana. Karena tidak
ada kebutuhan untuk mengusir lalat di sana.

Kemudian, apakah kita tidak lagi menyebutnya sebagai salah
satu bentuk kreativitas? Serapuh itukah makna sebuah
kreativitas?

Sekarang coba lihat sekeliling kita. Pensil, kunci
mobil, kancing baju, rokok, ponsel, cangkir dan
banyak lagi. Barang-barang yang kita butuhkan setiap hari.
Banyak yang kita tidak tahu siapa yang menciptakannya untuk
pertama kali. Siapapun dia, pasti kreatif.
Dengan kreativitasnya yang bisa memenuhi kebutuhan orang banyak.
Lintas ruang dan waktu. Luar biasa!

Saya pikir, sepantasnya kita bersyukur. Karena kita
masih hidup dan dikelilingi oleh segala bentuk
kreativitas yang telah dan akan terus menjadikan hidup kita
lebih baik.

Namanya takdir, walau telah meninggalkan advertising agency
dan memutuskan untuk menjadi tenaga lepasan,
saya tetap mencoba bikin iklan. Kali ini Iklan majalah Clue.

Image hosted by Photobucket.com

Diambil dari namanya yang berarti petunjuk,
kreativitas dalam iklan ini didasari pada
pertanyaan-pertanyaan dilematis sehari-hari.
Pertanyaan yang bukan membutuhkan
jawaban, tapi sekedar petunjuk.

“Mending pinter tapi jelek, atau bodoh tapi
cantik?” Atau “enakan jadi cowok atau cewek ya?”
Dan pertanyaan-pertanyaan ringan lainnya
yang sering kita tanyakan pada diri sendiri.
Dan kita tahu tidak ada jawaban yang benar atau salah.

Harapannya, selain pembaca tertarik pada majalahnya,
juga untuk menjawab kebutuhan akan iklan yang
menghibur. Yang bisa mengundang senyum. Sekecil
apapun. Di tengah keruwetan hidup kita dan berbagai
tekanannya, ada baiknya kalau sesekali iklan bisa
menjadi semacam hiburan. Tanpa ingin menggurui apalagi
memaksa untuk membeli.

Dibalik iklan Clue ini ada Alex Abimanyu, klien yang mengerti
impian anak kreatif. Ada Budiman Hakim dan Jeanny Hardono
yang setia mendampingi dan menasehati di titik nol sekalipun.
Cecil, Yuli dan Yunike, anak-anak Universitas Tarumanegara
yang menggambar dengan dan dari hati mereka.
Rangga dan Ruri, menemani malam-malam untuk mencari ide.
Adit Narada, rela dihutangi untuk bikin col sep dan sampai sekarang belum dibayar.
Vianne dan Bunda yang jadi ATM berjalan.
Gila! Untuk iklan sederhana ini, begitu banyak yang terlibat.
Begitu banyak orang kreatif yang membantu.
Mana mungkin saya melupakan semuanya itu. Terima kasih.

Selebihnya, saya serahkan kepada pembaca. Apakah iklan
ini salah satu kreativitas yang menjawab kebutuhan
pasarnya? Kalau belum, mungkin iklan ini belum
kreatif. Jawabannya pasti beragam. Tapi seperti kata
Mak O’bin “walau kita melihat hal yang sama, apa yang
kita rasakan dan pahami tak selamanya sama”.