(Orang Bantul Tetep Kaya Meski Tanpa Harta)

Photobucket - Video and Image Hosting

“Mas mangan mas… ngombe yo..
tapi saiki cuma air putih…” kata Parjinah
di depan rumahnya yang sekarang rata sama tanah.
“Matur nuwun mbok…” saya menjawab
sambil mengambil biskuit sumbangan dari Jakarta
dan mengambil air putih gelasan.

Sambil makan biskuit saya tak berani menatap wajahnya.
Sudah lama yang di dalam sini tidak disentuh seperti ini.
Bagaimana mungkin, di tengah ketiadaannya
orang masih berniat untuk berbagi.
Berniat menjamu dan menyenangkan orang lain.
Orang dari Jakarta seperti saya
yang baru dikenalnya 5 menit.
Orang dari Jakarta yang malamnya
menginap di hotel bintang lima Jogja.
Orang dari Jakarta yang saat hujan
dan panas terlindung kesegaran AC,
tidak pernah kekurangan makan minum.

Seketika saya jijik sama diri sendiri.
Saya merasa begitu rendah.
Tidak bersyukur dan selalu meminta.
Hampir tidak pernah saya berniat berbagi.
Semua untuk saya. Dan saya sendiri.
Kalau perlu menang piala dan penghargaan.
Supaya saya diakui. Dihargai.

Mbak Parjinah mengajarkan pada saya
kebahagiaan memberi.
Karena hidup ini adalah sementara.
Kita tidak pernah tahu kapan Dia memanggil.

Photobucket - Video and Image Hosting

“Iki mas Yanto mas, anakku.
Kakaknya meninggal kemaren gempa padahal wes kerja…”
kata Ibu Sumiati dengan wajah yang terlalu biasa
untuk seorang ibu yang baru kehilangan anaknya.
Suaranya sempat serak sebentar tapi kemudian tersenyum
sambil memperkenalkan anaknya yang
masih memakai seragam SMA.

“Baru pulang sekolah?” tanya saya.
“Lagi gak sekolah mas. Belum punya baju ganti jadi pake seragam” jawab Yanto.

Lagi lagi saya tak berani menatap Ibu Sumiati.
Saya langsung merasa jadi orang paling lemah sedunia.
Bagaimana sedikit saja gangguan dan cobaan dalam hidup,
saya langsung marah-marah, kecewa, putus asa
dan kalau bisa menyalahkan orang lain.

Photobucket - Video and Image Hosting

Pagi itu, saya dan tim kembali ke Bantul.
Matahari baru keliatan sebagian.
Udara luar lebih dingin dari AC di mobil.
Turun dari mobil saya langsung mengunjungi
teman baru saya, Alianti.

Alianti baru berumur 6 bulan.
Rupanya Ia sudah bangun dan lagi disuapi bubur susu SUN.
Ayahnya bekerja di Indofood bagian distribusi.
Kenapa Alianti teman baru saya?
Karena kemaren Alianti mengambil biskuit dari tangan saya
dan memasukkan ke dalam mulutnya.
Ketika saya hendak menggendongnya,
tiba-tiba bumi bergetar sesaat diiringi suara kentongan pertanda gempa.
Alianti menangis karena suara keramaian.

Photobucket - Video and Image Hosting

Pagi itu Alianti mengenakan topi kotak kotak dan kaos putih.
Ia tampak curiga menatap saya.
Saya mendekatinya.
Dan tiba tiba kedua tangannya terbuka minta digendong.
Dan hup! Seketika Alianti dalam gendongan saya.

“Selamat Ulang Tahun, Glenn!”
Saya anggap itulah yang Alianti hendak sampaikan kepada saya.
Pipinya saya cium cium sampe berbunyi seperti sapi.
Alianti tertawa menghangati pagi itu.

Dalam perjalanan balik ke rumah Mas Butet,
saya melihat spanduk besar bertuliskan:
Wong Bantul Tetep Sugih Ugo Tanpo Bandha.
Luki menjelaskan artinya sambil mengajarkan
cara pelafalan kata bandha.

Saya ingin mengucapkan kalimat ini dengan benar.
Karena apa yang tertulis memang benar adanya.

Photobucket - Video and Image Hosting

http://glennmarsalim.multiply.com/photos/album/36