Photobucket - Video and Image Hosting

Kakek dan adik kecilnya, baru saja meninggalkannya.
Sendirian di kereta api Bandung tujuan Jakarta.
Sejenak setelah kereta berjalan, Ia melihat ke luar jendela.
Badannya seolah kaku. Kepalanya membatu.

Satu menit, dua menit,
Ia membalikkan badannya, dan segera menutup wajahnya.
Air bening menetes dari sela-sela jarinya.
Bahunya berguncang lumayan kencang.

Aku diam saja.
Hendak ke mana, anak laki-laki ini?
Ke Jakarta mau apa?
Mau sekolah? Mau liburan?
Apa baru saja dia dijual?
Apa dia mau bekerja?
Kerja di mana?
Dengan siapa engkau tinggal di Jakarta?
Tinggal sendirian?

Sadar aku perhatikan, Ia kemudian melihat ke wajahku.
Dari matanya, aku bisa merasakan kesepian dan kegentaran sebening air matanya.
Dalam hatiku, aku berkata padanya:
“Jangan takut dik, selama bumi dipijak dan langit dijunjung,
insya Allah adalah Tuhan yang akan selalu melindungi kita.”

Pikiranku melayang ke 27 tahun yang lalu.
Saat aku ditinggal sendiri.
Bukan, bukan di sebuah kereta.
Tapi di sebuah gerbong gelap
dengan suara latar caci maki sumpah serapah.

Photobucket - Video and Image Hosting

Di saat umat yang lain bershalat Terawih,
di saat saudara seimannya berpaling iklas atau munafik
dari tempat-tempat kenikmatan duniawi,
Ia bekerja di tempat yang sebulan ini dinajiskan.

Jilbab yang melindunginya dan tanda takwa,
kini menjadi senjata jaga-jaga.
Siapa tau tentara bersorban datang.
Ia perempuan kecil berjilbab jadi tameng.

Matanya seolah berkata,
“tak hendak aku berada di sini”.
Tapi kerudung kecil berwarna ungu kembang-kembang,
ada di Ramayana, pasti bikin Lebaran makin meriah.

Hatinya mungkin berkata,
“tak hendak aku berada di sini”.
Tapi ketupat untuk yang menanti di kampung,
tak mungkin turun begitu saja dari langit.

Bola bilyar yang ditatanya seksama,
membentuk segitiga sempurna,
hancur merata dalam satu pukulan.
Tapi bukan impian lebarannya.