setelah beberapa kali jadi pembicara atau pengajar di berbagai perguruan tinggi, saya mempunyai satu kesimpulan. ujung-ujungnya yang sangat amat diingin tahukan mahasiswa terbagi dalam dua pertanyaan besar.
1. bagaimana mencari ide brilian dalam waktu sesingkat-singkatnya dan sebrilian-briliannya.
2. bagaimana bisa mendapatkan kerja di advertising agency juga dalam waktu sesingkat-singkatnya. bahkan kalau bisa langsung jadi CD.

sama halnya ketika UGM memanggil saya sabtu kemaren. dengan tema seminar “how to get brilliant ideas?” apalagi? pasti pertanyaan nomor satu di atas yang diinginkan dari saya.

sebenarnya, kalau saya ingin semuanya berjalan dengan mudah dan mulus, yang akan saya lakukan adalah tinggal
mengutip ilmu-ilmu dari buku-buku iklan. misalnya cutting edge, lanturan tapi relevan kemudian saya
rangkum, lengkap dengan contoh-contoh iklannya, kemudian saya presentasikan kembali. selesai. semua pulang dan seolah-olah telah mendapatkan jawabannya.

tapi saya mempunyai pemikiran dan pendapat yang berbeda. menurut saya, tidak ada jalan pintas cepat untuk mencari ide yang briliant dan yang kedua saya sendiri belum pernah merasa mendapatkan ide brilian. dan bahkan, sampai saat ini, apakah ide itu masih menjadi pertanyaan terbesar saya. saya ingat, dengan budiman hakim saya pernah adu pendapat soal ide dan diakhiri dengan kita berdua sepakat untuk tidak sepakat.

menurut saya, yang begitu menarik dan menggairahkan dalam dunia iklan adalah sifatnya yang terus bergerak dan selalu mencari cara untuk mendobrak pola dan formula. kenapa? karena konsumen, dan kita sendiri sebagai pembuatnya, bergerak seiring zaman.

dan untuk menghasilkan iklan yang setidaknya dilirik orang, diperlukan keberanian untuk mendobrak dan mengambil resiko. ada jutaan iklan di luar dan di dalam sini. tanpa ada dobrakan baru, maka iklan kita tidak akan terlihat.

dari mana harapan akan ke’baru’an itu? yang terbesar ada di mahasiswa. jelas.

tapi, kalau misalnya kita pernah melihat pameran karya iklan mahasiswa, terus terang harapan akan kebaruan itu tipis sekali. hampir 90% karya iklan itu masih menggunakan pola-pola lama dan bahkan banyak pula yang kuno. atau misalnya ketika seorang peserta bertanya “saya perhatikan iklan mas glenn terkesan penuh gitu… kok gak ada white space-nya? kok gak ada
breathing space gitu!”

sontak, bulu kuduk saya berdiri. dari mana aturan bahwa iklan cetak harus ada white space? harus ada breathing space? buat saya, ini jauh lebih membingungkan. karena aturan itu tidak pernah ada.

di jogja kemarin, akhirnya saya memberanikan diri untuk presentasi dengan mengisi rongga-rongga di hati dan pikiran mahasiwa yang selama ini mungkin kurang atau belum diisi.

yaitu rongga untuk berimajinasi. untuk sesaat melepaskan diri dari segala aturan iklan. untuk sesekali kembali ke hakikat iklan sebagai komunkasi. dan komunikasi tidak lebih dan tidak kurang, seperti manusia yang satu berbicara dengan manusia yang lain.

dan untuk bisa berbicara dengan manusia lain, kita membutuhkan sensitivitas yang tinggi. kepekaan. butuh kehalusan perasaan. butuh imajinasi. dan bukan sekedar ide.

untuk mahasiswa yang merasa pulang dengan kebingungan, pertanyaan, bahkan tidak puas dengan seminarnya, saya minta maaf. yang saya presentasikan kemaren memang bukan jawaban. karena saya percaya jawaban itu tidak pernah ada.

saya yakin hanya dengan terus memiliki pertanyaan dan mempertanyakan, dan dengan meninggalkan area kenyamanan semu bernama pola dan formula, harapan itu insya allah akan semakin tebal.