Kirain ada geledek beneran berhubung lagi musim hujan, ternyata geledek yang ini lebih ngagetin.

Weekend ini gue menghabiskan waktu ngopi-ngopi dengan temen-temen iklan dan PH. Ada yang dari agency multinasional, lokal, afiliasi, non afiliasi, semua melebur jadi satu di meja kayu dan kopi. Sampai salah seorang dari mereka bilang

“Eh Glenn, agency gue sering banget pengen ‘make’ loe, tapi jiper. Soalnya loe mahal sih!”

Gue kaget dan bingung tapi pasang muka tetep cool. Terus gue tanya balik.

“Emang tau harga gue? Tau dari mana?”

“Tau dari orang-orang.”

“Orang-orang mana?”

“Yah banyak… kata orang loe mahal.”

“Ah gila… ngaco…”

Pas gue mulai agak tenang karena mengira itu cuma asumsi dia doang, geledek kedua kembali menyambar ketika teman-teman semeja bilang bahwa isu itu benar adanya. Dan yang lebih bikin gue kaget, ada agency lokal yang boss-nya juga temen gue, urung pake jasa gue karena mengira gue mahal.

OK… Kalau gue menulis sekarang “eh gue murah loh…” atau “eh gue gak mahal loh…” pasti jadi ngambang. Karena mahal dan murah itu relatif. Tapi yang pengen gue sampaikan, bahwa gue gak pernah mematok harga. Beneran! Bahkan di banyak kasus, gue mengerjakan tanpa meminta bayaran sama sekali karena sebuah alasan sederhana, gue seneng sama kerjaannya. Gue pernah bantuin agency temen yang baru buka, tanpa meminta imbalan sedikitpun, karena gue merasa pengen membantu dan jadi bagian dari agency baru ini.

Bahkan tarif untuk agency-agency yang lebih mapan atau semi-mapan, setiap kali mereka menanyakan tarif, selalu gue balikin “budgetnya loe berapa?” Dan hampir tidak pernah gue menolak kerjaan karena kemurahan. Lebih banyak karena waktunya gak pas. Kadang gue ambil juga tapi gue kasih tau sebelumnya tentang jadwal gue. Biar gak ada yang kecewa di kemudian hari.

Salah satu alasan gue menjadi freelancer karena gue pengen punya keleluasaan untuk memilih. Selama ini lebih banyak gue mengambil kerjaan karena alasan-alasan yang mungkin buat orang lain tolol. Karena bossnya baik lah, karena brand-nya lucu lah, karena kantornya deket sama tempat tinggal gue lah, karena ECD-nya imut lah, dan lain lain. Hampir belum pernah, insya allah tidak akan pernah, gue mengambil atau menolak kerjaan dengan alasan uang semata.

Gue perlu uang. Karena untuk hidup gue perlu uang. Tapi gue gak mau hidup untuk uang. Karenanya gue jadi freelancer.