Besok jam 8:30 pagi, Student’s Creative Awards (SCA)-nya CCI kembali digelar. Setelah 2 tahun menghilang. Dan seperti 2 tahun lalu, kali ini gue juga diajak untuk mengajar. Materinya apa? Sama seperti 2 tahun lalu. TTL. Tapi mungkin kali ini gue akan mencoba memberikan materi TTL dengan cara baru. Supaya gue juga gak bosen.

Malam ini, gue mencoba merenungkan. Apa sih yang menjadikan seorang kreatif itu dibilang kreatif yang baik? Karena kan ujung-ujungnya, SCA dibuat untuk menciptakan tenaga-tenaga kreatif yang lebih baik daripada yang sekarang.

Apakah kalau seorang Art Director, bisa melay-out dengan baik,
bisa menggunakan photoshop dengan handal,
bisa memadu padankan warna dengan ciamik,
bisa menggunakan font dengan super canggih,
bisa disebut sebagai Art Director yang baik?

Demikian pula dengan Copywriter.
Apakah kalau Copywriter bisa menulis
dengan bahasa yang singkat pada dan mudah dimengerti,
bisa menulis dengan kata-kata yang mudah diinggat orang,
bisa menulis sesuai dengan strategi iklannya,
bisa menulis tagline yang diingat oleh hampir seluruh penduduk Indonesia,
bisa disebut Copywriter yang baik?

Kenapa kayaknya kalau cuma itu-itu saja acuannya, tenaga kreatif jadi kerdil sekali kesannya. Photoshop lah, warna lah, font lah, headline pendek lah, catchy tagline lah… YUCK! Bosan! Banyak tuh di gudang belakang!

Sejujurnya, semakin hari gue semakin menemukan, kemampuan dan keterampilan di atas emang penting. Tapi ada yang lebih penting dari itu semua. Menurut gue, yang lebih penting dari itu semua, lagi-lagi, menurut gue, adalah attitude.

Untuk apa anak kreatif jago segalanya,
tapi datang terlambat melulu sehingga mengganggu yang lain?
Untuk apa pinter ngelayout,
tapi semua yang keluar dari mulutnya adalah komplen dan keluhan?
Untuk apa pinter nulis copy,
kalau hampir tak pernah ada kata indah keluar dari mulutnya sendiri?
Belakangan ini, gue sering merasa lebih nyaman bekerja dengan anak magang ketimbang karyawan. Kenapa?

Karena anak magang masih punya semangat yang luar biasa. Sehingga gue pun jadi ikut semangat pula. Mereka tidak pernah komplen sana sini. Tapi lebih ke mencari solusi. Dan kalau dapat anak magang dari universitas terpercaya, biasanya mereka lebih disiplin. Dateng kantor dan menyelesaikan kerjaan tepat waktu.

Attitude mereka MASIH baik. Semangat belajar dan bekerja mereka MASIH tinggi. Walau dibayar sedikit, tapi mereka bekerja seolah tidak butuh uang.

Sekarang coba kita lihat ke belakang. Tempat duduk di mana para karyawan bekerja.

Yang satu datang terlambat dengan mata sayu karena semalamnya habis side job. Mau dikasih brief juga udah susah.
Belum lagi yang datang kantor petantang petenteng,
duduk, buka YM, multiply, friendster. Dan pas brief datang bilangnya selalu sibuk.
Atau yang tak pernah berhenti komplen. Mulai dari urusan gaji sampai kopi, OB sampai CD semua dikomplen.

Kalau gue harus memilih, bekerja dengan orang yang pandai, pinter cemerlang dengan attitude buruk atau bekerja dengan orang yang biasa-biasa saja dengan attitude yang baik, jelas yang kedua menjadi pilihannya.

Sempurna kalau bisa dapat kedua-duanya. Pandai dan berattitude baik. Tapi seperti kata Dorce, kesempurnaan hanya milik Allah.

“Talents are best nurtured in solitude, but character is best formed in the stormy billows of the world”
–Johann Wolgang von Goethe-

atau

“If you can’t excell with talent, triumph with effort.”
-Dave Weinbaum-

Sekarang, pertanyaan berikutnya, bagaimana mungkin mengajarkan soal attitude dalam waktu 2 jam?
Waktu yang diberikan untuk gue dalam SCA esok?
Mau tau doa gue setiap kali bertemu dengan anak-anak magang berbakat, dengan attitude yang baik?
“Tuhan, tolong jaga dia agar seperti ini terus adanya…”