Semenjak saya lahir di dunia ini, setiap tahun umat Islam di Indonesia menjalankan ibadah puasa. Banyak teman-teman saya yang khusuk menjalankan ibadah puasa, banyak yang setengah-setengah, banyak juga yang tidak sama sekali.

Walau minim pengetahuan soal agama, saya percaya puasa dimaksudkan agar setiap umat manusia yang menjalankannya, kembali ingat akan kefitrahannya. Kembali pada kebaikan. Menjauhi dosa. Intinya, berharap untuk kembali menjadi manusia yang disayang Allah.

Kalau benar, setiap umat Islam di negara ini menjalankan ibadah puasa dan memahami benar maksudnya, mengapa angka kriminalitas di tanah air kita tidak pernah berkurang? Mengapa koruptor bertambah jumlahnya? Mengapa kita semakin tidak menyayangi sesama? Mengapa semakin hari saya lebih sering mendengar orang menjelekkan orang lain? Mengapa semakin banyak orang yang syirik, iri, jahat, dan tega melakukan kebiadaban bahkan pada anaknya sendiri?

Apakah semangat spiritual puasa sudah menjadi ritual tanpa arti semata?

Natal tahun 2002. Seluruh umat di Amerika merayakan Natal. Di depan gedung putih yang termasyur, berdirilah pohon terang, pohon damai. Ribuan manusia negara itu serentak menyanyikan lagu Natal. “Damai, damai, damai lah senantiasa…”

19 Maret 2003, 3,5 bulan setelah itu, Bush menyatakan perang Irak. Ribuan manusia meninggal sia-sia. Milyaran bahkan triliunan uang ikut terbuang sia-sia. Dan sampai sekarang, 2007, hasil perang Irak masih diperdebatkan.

Apakah semangat spiritual Natal sudah menjadi ritual tanpa arti semata?

Dari SD sampai SMA, saya adalah seorang katolik yang sangat patuh. Setiap minggu, bahkan kadang setiap hari, saya pergi ke gereja. Perlahan tapi pasti, saya sering merasa ada yang kurang kalau Minggu tidak pergi ke gereja. Seperti tidak sikat gigi di pagi hari. Kebiasaan ini berlanjut sampai kuliah, dan masa-masa awal saya bekerja.

Sampai di suatu Minggu. Saya sedang mengikuti misa. Mendengar khotbah pastor yang panjang, saya kehilangan fokus. Benar-benar tidak mengerti sama sekali arti khotbah. Dilanjutkan dengan berdiri, berlutut, berdoa, semua seolah bergerak secara otomatis.

Ketika pulang, tiba-tiba saya merasa sangat bersalah. Bahkan berdosa. Bagaimana mungkin untuk menghadap Sang Pencipta saya tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh. Badan di gereja tapi pikiran entah ke mana. Mulut berdoa tapi hati tak tau merasa apa.

Saat itu, saya benar-benar merasa, ke gereja setiap Minggu tidak lagi menjadi kebutuhan spiritual rohani lagi. Tapi sekedar memenuhi ritual. Sama seperti sikat gigi. Bahkan kadang, sikat gigi dilakukan lebih dihayati ketimbang ke gereja.

Sebentar lagi penghujung tahun tiba. Puasa, Lebaran, Natal, Tahun Baru, Sin Cia, dan banyak lagi hari besar keagamaan datang berturutan. Saya cuma bisa berdoa, semoga hari-hari besar itu bukan lagi sekedar menjadi ritual tanpa arti. Tapi benar-benar bisa kita hayati. Semata untuk mendekatkan diri pada Ilahi, dan menjadi lebih baik di hari nanti.

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 2007.