Photobucket

1947, seorang anak kecil berusia 6 tahun, tersesat di stasiun kereta api. Anak itu kemudian dibawa oleh seorang pria untuk dititipkan di rumah seorang janda. Janda berusia 70 tahunan itu menolak karena menganggap titipan itu sebagai beban. Apalagi di malam pertama, sang anak itu kencing di kasur.

Janda marah besar dan hendak mengusir anak kecil itu dari rumahnya selayaknya menghalau kucing yang hendak maling ikan. Kue yang enak dan hal pemberian tetangganya seolah tak pantas untuk diberikan kepada anak itu. Bahkan, janda itu menghina ayah sang anak karena menelantarkan anaknya sendiri di pinggir jalan.

Suatu saat, anak itu kembali dimarahi habis-habisan oleh janda itu karena dianggap mencuri manisan yang sedang dijemur. Anak itu berkali kali berkata bahwa dia bukan pencurinya. Sampai akhirnya, tetangga mendengar bentakan janda dan akhirnya mengaku bahwa tetangga itu lah yang mencuri manisan itu.

Di sore harinya, anak itu tiba tiba menghilang. Anehnya, sang janda kelimpungan mencari anak itu keliling kota. Tetangga dekatnya berkata “ini adalah berkah. Bukakah kamu selama ini tidak menghendakinya? Sekarang ia telah pergi.” Dari wajahnya sang janda tampak sedih.

Di malam hari, anak itu kembali diantar oleh yang menemukannya saat pertama kali. Rupanya ia kabur ke stasiun kereta api tempat ia ditinggal oleh sang ayah. Tak dikira, sang janda tampak merindukannya. Ia bahkan menawarinya makan malam dan suasana berubah menjadi begitu hangat. Sang anak bahkan diminta untuk memijat sang janda. Mereka berdua tertawa terkikik-kikik mengingat saat awal-awal mereka berkenalan.

Namun kehangatan itu rupanya tak berlangsung lama. Sang ayah datang menjemput. Tak hanya menjemput, ia membawa sekarung kentang untuk sang janda seraya berterima kasih karena telah menjaga anaknya yang rupanya lepas dari genggamannya saat di stasiun. Bukan ditelantarkan. Ayah yang selama ini dihina oleh janda itu tampil sebagai sosok yang santun dan jauh dari kesan tidak bertanggung jawab.

Anak itu pun pergi bersama sang ayah. Meninggalkan janda seorang diri.

Kalau ada orang bilang, “Pergilah ke Roma sebelum wafat” maka sepantasnya ada yang bilang “Nontonlah Record of a Tenement Gentlemen sebelum wafat.” Film arahan Yasujiro Ozu ini memang luar biasa menurut saya. Walau tidak dinilai sebagai masterpiece oleh para pakar film, tapi ini adalah film yang sangat menghibur dengan kesederhanaannya.

Di akhir film, tiba tiba saya merasakan ada yang panas di dalam sini. Dan menyambung tulisan sebelum ini, Untuk Apa Sempurna?, maka film ini jauh dari sempurna. Acting para pemain yang begitu kaku. Kamera yang tidak bergerak. Dan karena film ini dibuat tahun 1947, maka banyak gambar yang sudah mulai buram. Suaranya pun di beberapa bagian terdengar naik turun. Tidak ada aktor cantik dan ganteng. Tidak ada selebritis. Film ini tidak pernah menang Oscar.

Tapi untuk saya, film ini semakin tua semakin sempurna. Saya sampai menontonnya 6 kali. Berbanding terbalik dengan film Troy yang dibuat dengan demikan sempurna. Saya tertidur di dalam bioskop. Bahkan aktor dengan fisik sempurna macam Brad Pitt tidak dapat menolong. Dan apakah film, yang diusahakan untuk jadi sempurna ini bisa bertahan lebih dari 50 tahun seperti Record of a Tenement Gentlemen atau Tokyo Story?

Photobucket

Hanya waktu yang memang bisa menjawab. Tapi siapa mau nonton Troy dua kali?