Pagi ini gue ke bank. Ada banyak urusan perbankan dan asuransi yang keteteran. Alhamdulillah pagi ini ada waktu.

Ketika sedang berada di counter mengurus satu persatu kebutuhan perbankan gue, tiba-tiba terdengar suara dari belakang menyela “maaf ya pak, ini tolong ibu ini diurus dulu… maaf ya pak… maaf.” Gue menengok ke arah suara itu yang dari seragamnya kelihatan punya kedudukan lebih tinggi. Sementara di sebelahnya, seorang ibu agak gemuk masih mengenakan daster, dengan rambut acak-acakan, menggenggam tissue sambil sesekali mengusap matanya. Gue buru-buru berkata “Oh iya gak apa-apa… silakan… silakan.”

Tanpa ba-bi-bu ibu itu setengah berteriak ke arah customer service “mbak saya lagi musibah… uang saya dibobol lewat e-banking”. Matanya terus mengeluarkan air mata. Wajahnya tampak pasrah dan kesal. Di belakangnya berdiri anak perempuannya menemani.

Gue berusaha untuk melihat ke arah lain. Sambil sesekali melihat ke arah wajah ibu tersebut. Di kepala gue storyboard pun mulai digambar…

Sepertinya ibu adalah seorang pengusaha rumahan. Mungkin dia punya usaha konveksi di rumah. Dari usaha konveksi itulah dia membesarkan dan menyekolahkan anaknya. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan dengan susah payah. Niatnya punya uang lebih supaya di hari Lebaran bisa merayakan dengan sedikit kemewahan.

Jalan-jalan ke Ancol, beli baju baru, kirim uang ke orang tua, beli makanan, bersilaturahmi sambil membawa buah tangan dan ribuan impian indah buat berlebaran nanti. Kebetulan semalam, mantan suami ibu ini ingin pinjam uang. Ibu ini menyanggupi dengan mengirimkan uang melalui e-banking.

Tapi apa daya, malang tak dapat ditolak, pagi harinya ibu ini menemukan tabungannya tersisa Rp 25.000,- yang merupakan limit terendah tabungan. Semua nya terkuras habis. Lututnya gemetar dan hatinya perih. Ingin teriak tak tau menyalahkan siapa. Ingin menangis tapi sadar tak akan mengembalikan uang yang hilang.

Dengan mengumpulkan segenap tenaga yang tersisa, bersama sang putri berangkat ke bank. Walau tau, bank tak bisa berbuat banyak, tapi usaha tetap harus dicoba. Demi semua impian, demi semua kerja keras selama setahun.

Langsung deh… mata gue mulai agak dingin dan dada gue mulai panas. Sebelum beranjak gue cuma bisa berkata “tabah ya bu…”. Ibu itu tampak sedikit terkejut untuk kemudian mengangguk sambil berkata kecil “terima kasih…”

Sesudah keluar gue mikir, gila ya gue… Kan yang tadi cuma ada di storyboard di kepala gue doang. Gue yang menciptakan cerita tadi. Yang bisa jadi melencong jauh dari kenyataan. Tapi entah kenapa gue yakin banget sama cerita itu, sampai-sampai larut terbawa emosi.

Di luar bank gue jadi pengen ketawa sendiri tapi masih pengen nangis juga. Hahaha serba salah. Banyak karyawan kantoran lalu lalang, melihat gue. Entah apa storyboard di kepala mereka melihat gue begini….