Entah ada apa dengan Leica.

Sejak gue belajar fotografi di fakultas desain grafis, gue selalu memimpikan sebuah kamera Leica. Tapi harganya memang luar biasa fantastis.

Seperti contoh yang ada di gambar ini, harganya sekitar 50 jutaan. Buseeeeet, bisa buat DP mobil bahkan rumah.

Gue cuma ngerasa ada sebuah masa lalu di desainnya. Yang mengingatkan gue akan arti kata klasik, gaya, kualitas dan keabadian. Yang lain boleh datang dan pergi. Nikon dan Canon boleh berantem dan beradu keren. Tapi Leica tetap pada pendiriannya. Walau sudah dibeli Panasonic, buat gue, Leica selalu istimewa.

Sampai suatu hari, gue iseng-iseng ngisi tes imut di internet. Judul tes-nya If You Are A Brand. Tes ini akan mengidentifikasi kepribadian dengan brand yang sesuai. Dan benar saja, brand pertama yang sesuai dengan kepribadian gue adalah Leica.

Tes ini jadi mengingatkan gue akan impian masa kuliah. Saat itu gue masih lugu. Gak mengenal nilai Rp 50 juta. Saat itu semua masih gue anggap mungkin. Dan saat itu Leica seolah gampang dikejar. Tapi 15 tahun kemudian, sekarang, Leica malah tampak semakin jauh. Bahkan, ada suara kecil di hati gue yang berkata “walaupun uangnya ada, kayaknya gak pantes deh untuk beli Leica”.

Untuk menghibur diri, gue seneng merenung. Dalam perenungan kali ini, ada sajak di kepala gue. Judulnya “Leica”

Leica

Leica, Leica on the wall,

tell me who is the greatest of them all?

Photos, photos on the wall,

show me the fairest of them all?

And Leica replied:

Nor the object, nor the subject.

Nor the composition, nor the gradiation.

Nor the photo, nor the lighting.

Nor the camera, nor the lenses.

Nor the photographer, nor the paper.

The story.

Let me be the pen for a storyteller,

not a camera for a photographer.

Use me not to take a sheet of photo.

Use me to take a sheet of life.

Keep me not in a sturdy bag.

Keep me in hand of time.

For I am Leica.