Tahun 2008 baru saja menyelesaikan tugasnya. Tahun 2009 baru terima serah jabatan. Seperti di setiap awal tahun, banyak dari kita yang melakukan 2 hal. Melihat ke tahun kemaren, dan mempersiapkan tahun yang akan datang.

Melihat ke tahun 2008, adalah tahun yang penuh dengan pembelajaran. Banyak kejadian yang membuat gue mengubah cara pandang terhadap kehidupan ini. Meluaskan perpektif tentang banyak hal. Dan kebetulan 2 pelajaran besar itu berawal dari ruang kelas bernama Amerika.

1. Barrack Obama

Ketika lingkungan sekitar gue bergembira, gue ada pertanyaan dalam hati “emang yakin ya dia ini bakal ok? hehehehe”. Tapi ada satu hal yang gue pelajari. Pelajaran itu adalah tentang mimpi. Tentang harapan. Tentang cita-cita.

Semua bisa terjadi. Semua mungkin. Semua bisa. Selama ada keinginan kuat, ada kerja keras, ada keringat dan air mata, insya allah semua itu mungkin.

Semenjak saat itu gue berkata dalam hati, mulai saat ini, kalau ada satu manusia di muka bumi ini yang berkata atau berniat mematahkan impian dan cita-cita, maka manusia itu tidak berhak untuk hidup dekat dengan kehidupan. Karena kehidupan adalah soal impian, harapan dan cita-cita. Lawan dari ketiga hal itu, membujuk pada kematian.

2. Krisis Global

Gue inget banget di awal-awal krisis global ini mulai marak, seorang teman menulis di multiply “BE AFRAID”. Saat itu tulisan itu gue lawan dengan ngototnya. Mau takut apa? Takut miskin? Takut lapar? Takut dipecat? Bukankah hidup kita sepenuhnya milik Tuhan? Dan kita hanya menjalankannya dengan sebaik-baiknya?

Kalau ngomong hidup susah, semenjak gue lahir di Indonesia, hidup memang tak pernah terlalu mudah dan nyaman. Cari uang susah, fasilitas negara buruk, jaminan masa depan rendah, dan lainnya.

Sesudahnya teman gue meralat maksud “BE AFRAID” nya itu. Yang dimaksudkan adalah agar kita lebih mawas. Lebih hati-hati dalam berbelanja. Lebih irit. OK deh… “udah dari dulu Yas… loe aja yang hedon! Heheheh!”

Tapi satu hal yang luar biasa yang gue pelajari dari krisis yang dimulai dari Amerika ini. Negara Adi Daya. Maha segalanya ada di Amerika. Pelajaran itu adalah soal, kemungkinan. Semua itu mungkin terjadi. Siapa bisa mengira bahwa krisis ekonomi ini bisa terjadi di Amerika.

Di negara yang dipenuhi dengan orang pandai, cerdas, intelek, bagaimana mungkin krisis sebesar ini tidak bisa diatasi dengan cepat? Di negara yang serba penuh persiapan, cenderung parno, dan bahkan sibuk mengingatkan negara lain untuk bersiap-siap, kok bisa tidak mengantisipasi krisis sebesar ini?

Karena semua mungkin terjadi, maka semua manusia sama. Tak perlu kagum dengan orang pandai, tak perlu hina dengan orang bodoh. Yang pintar bisa jatuh yang bodoh bisa naik. Tak perlu mengidolakan orang kaya, tak perlu mengecilkan orang miskin. Karena yang kaya bisa jatuh miskin di 5 detik ke depan dan di detik yang sama yang miskin bisa jadi kaya.

Semenjak saat ini pula semua adalah teman. Mari kita berjalan bersama. Tak perlu lah berjalan di depan atau di belakang. Kamu tak lebih dan tak kurang dari siapapun di dunia ini. Yang sedang di atas tak perlu membusungkan dada. Yang di bawah tak perlu menunduk. Semua ada perannya. Semua saling membutuhkan. Dan semua berputar.

Menjelang akhir tahun seperti biasa gue mempersiapkan sms ucapan. Dan tahun ini, gue mengambil quote dari Woody Allen seperti yang ada di tulisan gue sebelumnya.

“If you want to make God laugh, tell Him your plans” – Woody Allen

Ada banyak sekali reply yang menarik, lucu dan dalam seperti:

“I will coz God loves to laugh…:-)”

“I only have pasrah”

“Thank God I don’t have any beside wishes”

“Hahahaha that’s why i never have plans. Just go with the flow…”

Dan masih banyak lagi. Tapi ad satu reply yang sangat manis dan ketika gue membacanya bulu kuduk gue berdiri sebentar, dan mata gue terasa agak panas:

“I do not have plans, glenn. But i have wishes, hope and dreams that surely will make God so proud of me.”