Waktu itu gue masih karyawan di sebuah biro iklan multinasional.
Waktu itu lepas jam kerja, yang berarti jam lembur.
Meeting baru aja berakhir dan pantat gue baru aja mendarat di kursi.
Seorang Planner asing mendatangi meja gue.
Orang iklan dari mana pun, sama aja. Selalu besar.
We are the most awarded advertising agency in the world.
We are connected in 50.000.000.0000 countries in the world.
We handle more than 5 billion big brands in the world.
Whateva.

Planner itu berkata dengan suaranya yang besar
“love your presentation, you did great. international standard and a step ahead”
Gue mengangguk-angguk. Senyum-senyum kecil. Pengen buru-buru pulang.
Kejadian ini sekitar 8 tahun yang lalu. Sampai sekarang masih melekat di benak gue.
Setiap kali mengenangnya, gue selalu merasa ada yang salah dengan ‘pujian’ itu.

Coba deh pikirin…

International Standard?
Kenapa gue mesti bikin iklan berstandar internasional? Maunya iklan ya standar nasional aja.
Disenangi oleh orang Indonesia, cukuplah.
A Step Ahead?
Kenapa iklan yang selangkah lebih maju dibilang bagus? Iklan kan soal kekinian. Saat ini. Detik ini.
Bukan soal 1 atau 1000 tahun ke depan.

Kemaren dulu, gue baru berkesempatan kerja freelance di sebuah agency di Singapore.
Konon kabarnya agency ini apalah desway deswey canggih aja gitu pokoknya.
Gue ambil job ini karena gue lagi pengen renovasi ranjang dan kamar tidur.
Jadi di tengah kehebohan meeting itu, gue memikirkan mau model ranjang yang seperti apa nanti.

Meeting terus bergulir mereka sedang membahas bran bren bran bren in the future and what what what international standard.
Sampai seseorang berkebangsaan asing dengan kata “Regional” di depan statusnya berkata
sambil melihat tajam ke arah gue “do you wanna say something?”
Gue yang lagi mikirin ranjang jati langsung sat set sat set berkata “yes…”
Padahal bingung mau ngomong apa.

“Why do we have to think about how this brand gonna be in the future?
Haven’t we seen enough, how consumers may love the brand but not buying the product?
Isn’t advertising is all about now, today at this particular moment and not about tomorrow?

None of you is Indonesian, and i am the only Indonesian here.
Don’t you want to know about me before you write strategy or even before you take this job?
Don’t you want to know how to be friends with me?
Don’t you want to know what we, Indonesian like and dislike?”

Krik… krik… krik… Ruangan sunyi. Bodo ah…

Di kejauhan matahari pagi baru akan terbit.