Saya, memang bukan orang yang bisa fokus di satu hal berlama-lama.
Termasuk dalam urusan karir. Saya tidak pernah merasa harus bekerja di dunia periklanan.
Saya bahkan tidak merasa harus berkarya di jalur kreatif.

Beruntung saya sempat menjalani profesi lain.
Ada yang sambilan ada yang sambil lalu.
Profesi itu adalah berdagang.
Namanya juga cenes… buah jatuh gak jauh dari pohonnya.

Sebulan ini, saya bekerja freelance di sebuah perusahaan yang menjual perhiasan.
Tugas saya yang utama adalah menjaga agar desain-desain yang dikeluarkan sesuai dengan mereknya.
Karena itu saya berinteraksi dengan banyak karyawan yang semuanya ‘bukan anak ahensi’.

Mereka bukan tidak punya masalah, tapi ada satu hal penting yang saya pelajari
setelah membandingkannya dengan bekerja di biro iklan.

Di biro iklan, ketika menjual “ide”, maka kita mencari segala hal untuk mendukungnya.
Rasionalisasi, alasan, argumen dan sebagainya.
Tak jarang, dalam sebuah deck presentasi,
argumen itu jumlahnya lebih tebal dibandingkan dengan idenya sendiri.

Ketika kita menjual (baca: presentasi) maka segala kemampuan kita kerahkan.
Laku? Senang bukan alang kepalang.
Gak laku? Sedih. Kalaupun bilang “biasa aja lah” itu untuk menghibur diri sendiri aja.

Berbeda dengan saat kita menjual barang. Jadi pedagang barang.
Apalagi kalau barang yang kita jual memang terbukti bagus. Terbukti berkualitas.
Kita sama-sama berjualan.

Bedanya?

Rasionalisasi dan alasan yang diberikan lebih “bergengsi”.
Pasti kita akrab dengan “boleh cek ke toko sebelah!”
Itu adalah salah satu bukti kepercayaan diri yang luar biasa.

Mau beli? Silakan.
Gak mau beli? Tidak mengapa. Akan ada yang lain yang akan membeli.

Hal sederhana ini yang ternyata selama ini hilang saat saya bekerja di biro iklan.
Mana mungkin saat klien tidak membeli ide, setelah berbusa-busa berjualan, kita bisa melenggang cuek cari klien lain?
Ide iklan sulit untuk direcycle.
Setiap ide dibuat khusus untuk klien tertentu dengan masalah tertentu.

Menjadi pedagang, memang punya tantangan lain.
Yang utama, saat toko sebelah menjual barang lebih baik dan lebih murah, misalnya.

Mengapa anak kreatif perlu duduk di kursi klien?

Di suatu siang, saya iseng membuka-buka presentasi biro iklan yang pitching untuk menangani klien ini.
Harus saya akui, solusi yang biro iklan berikan memang terkesan “lucu-lucuan”.
Seolah tak mau paham persoalan klien.
Yang penting iklannya keren, seru, lucu, imut!

Contoh lain, bagaimana bekerja bersama klien membuka pikiran saya.

Sebelum saya memasuki kantor ini, saya memiliki sebuah ide yang akan saya presentasikan.
Di kepala saya saat itu, ide tersebut brilian!
Setelah sebulan bersama klien, saya mulai merasakan ide tersebut tidak relevan.
Dan untungnya, saya menemukan ide lain yang lebih sesuai.
Mungkin tidak “secanggih” ide yang awal.
Tapi lebih relevan dan mulai berpikir bahwa semua investasi harus bisa dipertanggung jawabkan.

Dengan pengalaman sederhana ini,
saya semakin yakin.
Kalau ingin jadi anak kreatif periklanan,
cobalah bekerja bersama klien.
Bukan hanya datang saat presentasi.

Duduk bersama. Rasakan mood dan tense yang klien alami.
Culture perusahaan. Celah yang ada. Apa yang mungkin dan tidak mungkin.
Percayalah, ini tidak akan mengungkung, malah membuka banyak pintu lain.

Pintu yang akan membawa pikiran dan ide kita pada, solusi.