sebelum memulai sebuah brief,
entah kenapa selalu muncul pertanyaan ini di kepala
“kalau gak punya apa-apa bisa jadi apa?”

mungkin karena terlahir dari keluarga menengah ke bawah.
berpengaruh pada pekerjaan.
saya paling gak tega menghabiskan duit klien.
ini tentunya berseberangan dengan paham korporasi.
tapi biarlah, toh saya freelancer.

saya lebih sulit mengerjakan pekerjaan yang “besar”.
pernyataan klien seperti “pokoknya budgetnya unlimited. you name it!”
selalu bikin saya keder (dan mungkin sebenarnya minder)

saya suka dengan pekerjaan berbudget rendah.
pekerjaan kecil yang mungkin tidak berarti atau dianggap cemilan.
tapi dikerjakan dengan kesungguhan dan sepenuh hati.

melihat hasil dari pekerjaan yang dimulai dengan minim
dan bisa memberikan hasil maksimal, memberikan kepuasan tersendiri.
semacam selembar bulu ayam yang digesek ke telinga memberikan sensasi di telinga.
untuk kemudian menjalar ke seluruh tubuh.

membuat kita merasa gelisah,
kok bisa seluruh saraf di tubuh kita terangsang oleh selembar bulu?

ketika melihat pekerjaan yang dahsyat
dikerjakan dengan dana dan tenaga yang dahsyat pula,
hati kecil saya selalu berkata
“yaeyalaaah… justru kalo hasilnya gak dahsyat baru pantas diributkan.”

tak hanya di dunia periklanan yang saya geluti.
tapi juga di dunia desain grafis, film, musik, dan banyak hasil karya lainnnya.

mungkin ada semacam “pembelaan buta” yang saya lakukan tanpa saya sadari,
untuk karya-karya “selembar bulu ayam” itu.

belum lagi menonton, tubuh saya sudah seperti menolak sensasi
yang ditawarkan film-film seperti titanic, gladiator, dan avatar.
saya pun “membela” film-film iran berbudget rendah dan kamera sekedarnya.

tentu dengan syarat, bisa mengguncang seluruh syaraf.