Bayangkan kalau suatu saat Anda bangun dan tak ingat siapa nama, asal usul bahkan tempat di mana Anda berada.
Limbung? Kesal? Geram? Penasaran? Dan berbagai perasaan tak jejak lainnya.
Seperti itulah yang saya rasakan saat menonton Modus Anomali barusan.
bagus dong filmnya bisa mengguggah dan memainkan emosi? Mungkin…

Sebuah film yang dari awal membuat saya banyak bertanya. Pikiran comel saya terus menggempur.
Pertanyaan yang menggunakan pikiran logis. Sampai saya harus terus mengingatkan diri saya sendiri, ini “cuma film”.
Menyerahlan dan nikmati sajalah…

Untungnya, Joko Anwar, berbaik hati memberikan waktu lumayan panjang, bahkan kepanjangan,
untuk saya terus mengingatkan diri kalau ini adalah hiburan. Tak perlu banyak yang dipikirkan.
Nikmati saja acting Rio Dewanto, darah bermuncratan, suara yang mencekam dan segala kejutan.
Jangan coba-coba untuk dipikir terlalu serius.

Dan tanpa saya sadari, film pun usai. Saya masih melongo.

Sesudah menonton, teman-teman langsung bertanya dengan nada sama “gimana? bagus gak?”
Saya menjawab sekenanya
“gue gak punya pilihan untuk bilang ini film bagus.
Takut ah kalo bilang gak bagus atau gak suka.
Nanti gue gak eksis!”
Untunglah jawaban sekena ini cukup menghibur sehingga mereka meninggalkan saya.

Sebenarnya, jawaban tadi bukan jawaban sekenanya.
Begini… kalau di sebuah film yang tidak memiliki referensi identitas, tempat, bahkan waktu,
maka pembuat film bisa sesuka hati bercerita.
Ini hutan di mana? Hutan di Kalimantan? Atau kawasan hutan Universitas Indonesia?
Lalu dia ini suami siapa? Apa profesinya? Kenapa dia berlibur di hutan?
Semua itu menjadi dan dianggap tidak penting lagi.
Joko hanya mau bercerita. Dan kita penonton, tontonlah.

Semua pertanyaan di kepala saya sesudah menonton saya bayangkan bisa dijawab dengan mudah oleh pembuatnya dengan jawaban pertanyaan balik “kenapa enggak?”
Misalnya…
Kenapa sih Joko bikin film begini?
Kenapa enggak bikin film begini?
Kenapa mesti pake bahasa Inggris?
Kenapa enggak pake bahasa Inggris?
Kok liburan ke hutan?
Kenapa enggak di hutan?
Kenapa kok baju Rio di tengah film mendadak terasa lebih kecil?
Kenapa enggak lebih kecil?
Dan seterusnya.

Film ini adalah cerita yang dihasilkan oleh generasi yang tak membutuhkan identitas.
Tanpa kungkungan tempat dan waktu.
Semua bebas dan sah.
Generasi yang mendobrak segala aturan, bahkan waktu.
Yang mempertanyakan “kenapa gak begini? kenapa gak begitu? apa harus begini?”

Mungkin inilah semangat Joko Anwar.
Bahkan di telinga saya, saya bisa mendengar Joko sedang berbisik
“ini kan film gue, suka-suka gue dong ah…”
Baiklah…

Setelah menyaksikan semua film Joko Anwar,
ada satu pertanyaan yang semakin ingin saya tanyakan,
“siapa kamu Joko Anwar?”
Mungkin Joko juga bisa menjawab
“kenapa enggak… ergh… “
Suatu saat nanti, kalau saya dikasih umur panjang.
saya akan menjelaskan kenapa siapa dan mengapa menjadi penting buat saya
untuk mengapresiasi sebuah film. Dan berbagai karya seni lainnya.
Pilihan personal saya.

Yang pasti, saya selalu jatuh hati pada karya yang jujur.

Jadi Modus Anomali bagus atau gak?
Bukan lagi jawaban yang harus dijawab.
Yang pasti saya belum pernah nonton film Indonesia seperti ini.
Tanpa bermaksud menuduh, tapi saya yakin dibalik film tanpa referensi ini – dalam bahasa sederhana saya sebut dongeng-,
Joko memiliki banyak referensi film dibaliknya. Bahkan mungkin terlalu banyak referensi.