Holycow Steakhouse by Chef Afit, adalah nama baru setelah Holycow pecah kongsi. Usaha milik Lucy Wiryono dan Afit ini tersebar di Senopati, Kelapa Gading dan yang terbaru di Kebon Jeruk. Pemiliknya lebih suka menyebut “warung” walau mungkin sulit untuk kita makan steak sambil angkat kaki ke kursi apalagi makan pakai tangan.

Warung yang dimaksud pemiliknya mungkin lebih tepat dimaknai sebagai kultur ketimbang bentuk. Warung di mana semua bisa santai makan steak dengan harga yang bersahabat. Untuk generasi 70’an mungkin masih ingat di masa mereka kecil, makan steak adalah sebuah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh orang berada.

Jadi ingat pada waktu itu saya dan ibu sedang jalan-jalan di mall dan saya mengutarakan keinginan untuk mencicipi wagyu. Ibu saya menjawab “boleh, tapi kamu jadi menteri dulu…”

3 tahun yang lalu, saat Twitter belum seterkenal sekarang, Holycow mulai sering berseliweran di timeline. Saya pun ingin segera mencicipinya. Namun lokasinya yang cukup jauh dari tempat tinggal saya, menghentikannya. Ditambah beberapa komentar para “pakar makanan” seperti “ah itu wagyu kelas berapa? wagyu kan mesti ada sertifikatnya!”

2011, saya baru berhasil mencicipi steak wagyu kreasi Chef Afit ini. Saya juga beruntung bisa makan langsung ditemani Lucy. Kenapa? Karena di saat yang bersamaan, Lucy menceritakan mulai dari silsilah restoran sampai kualitas wagyu yang mereka gunakan. Lucy seolah tau pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala saya saat makan. Singkat kata, daging steak yang mereka gunakan benar-benar wagyu.

Saya bisa makan wagyu tanpa perlu jadi menteri terlebih dahulu.

Pertanyaan banyak teman “enak gak?” tidak bisa saya jawab dengan satu kata. Makanya ini saya merasa perlu menulis di blog. Dan tentunya saya akan skip jawaban “rasa kan soal selera” karena rasannya semua orang sudah tau itu.

Setelah beberapa kali makan di Holycow Steakhouse by Chef Afit, saya menemukan diri saya merelakan mengeluarkan uang berkali-kali untuk makan makanan yang sama. Artinya? Pasti saya merasa rasa dan harga seimbang. Ini yang menurut saya seringkali kita lupakan saat kita menikmati makanan. Pernah saya mendengar komentar teman “ah menurut gue sih enakan wagyu Rustique”. Saya  diam saja. Itu hak dia. Tapi menurut saya itu bukan perbandingan yang seimbang.

Kalau ingin membandingkan Holycow, bandingkanlah dengan restoran sejenis yang sekarang semakin menjamur. Dan fakta bahwa restoran steak “murah” semakin menjamur tentunya membuktikan keberhasilan Holycow.

Di suatu siang, karena ada proyek bersama Holycow, saya menyempatkan diri untuk duduk berlama-lama di pojokan warung. Saya ingin mengamati tamu yang sedang menikmati steaknya. Ada yang makan dengan memotong daging langsung makan tanpa saosnya. Ada yang memotong daging, celup ke saos sebelum masuk ke mulut. Dan yang terbanyak adalah, memotong daging kecil-kecil, siram dengan saos, sebelum makan sepotong-sepotong.

Untuk para food critique pasti akan langsung mencemooh “itu mah makan semur!”

Mungkin mereka benar. Itu bukan lagi steak tapi semur. Tapi mungkin juga para food critique lupa, bisa jadi ini adalah pengalaman pertama makan yang disebut “steak”untuk banyak orang. Ada berapa manusia di kota ini yang beruntung untuk bisa makan steak sebelum Holycow buka? Apalagi steak wagyu.

Pengamatan ini kemudian membawa saya berpikir bahwa Holycow bisa jadi telah menjadi pembuka lidah dan wawasan bagi banyak warga Jakarta. Lidah karena mereka telah mencicipi steak. Wawasan karena setidaknya mereka mengenal aroma dan rasa steak. Membuka rasa baru yang bukan tidak mungkin menambah rasa percaya diri saat mereka bergaul nantinya. Percaya diri? Benar. Karena sekarang semakin banyak orang yang bisa bilang “yes, i have tried steak. not only steak but wagyu steak!” Dan untuk itu semua, kita cukup mengeluarkan kocek sebesar 80 ribu – 150 ribuan saja.

Sepenting itukah? Terserah dari mana mau melihatnya. Yang pasti, saya sering bertemu dengan teman-teman seangkatan yang tidak bisa menggunakan sumpit dengan benar. Atau kebingungan saat hendak makan sushi. Mencicipi miso dengan sendok sambil berkata “asin doang nih?”Atau sesederhana makan cupcake dengan sendok.

Dengan adanya Holycow kita bisa berharap tidak ada lagi warga Jakarta yang menjawab “small” ketika ditanya “mau yang medium atau well done?”

Saat saya ikut dalam sebuah riset berbayar oleh biro iklan internasional mengenai makanan, Holycow menjadi salah satu contoh kasus. Salah satunya yang saya ingat adalah “demokratisasi makanan”. Yang secara mudah bisa kita artikan, yang tadinya makanan gedongan kini bisa dinikmati oleh warungan dan yang tadinya makanan warungan kini masuk ke gedongan.

Tidak percaya?
Silakan jalan-jalan ke mall berbinar di ibukota. Dengan mudah kita menemukan restoran yang menawarkan wedang ronde, tape ketan, bahkan nasi kucing! Laku? Silakan temukan para eksekutif muda ibukota menikmati makanan “kampung” ini dengan nikmatnya di jam makan siang. Tentunya di restoran yang telah ditata menyerupai warung lengkap dengan pelayan yang berdandan ala Inem pelayan warteg.

Holycow baru saja membuka Loobie, sebuah warung (lagi) yang menawarkan lobster. Saat diundang ke pembukaannya, saya bertanya pada diri saya sendiri “kapan terakhir makan lobster?” Saya tidak ingat. Bahkan mungkin saya belum pernah makan lobster.

Pulang dari acara itu, jauh di lubuk hati saya berbisik “saya sudah pernah makan lobster dan oh begitu rasanya”. Dan ketika ditanya “enak gak?” Mana saya tau. Saya belum pernah makan lobster. Dan seingat saya, saya menikmatinya.