Apakah Anda seorang Buzzer?

Kalau definisi buzzernya adalah mendapatkan imbalan dengan mempromosikan produk atau jasa di media sosial, iya saya adalah Buzzer.

Sudah berapa lama menjadi Buzzer?

Sekitar 5 tahun belakangan ini lah.

Sering?

Tidak juga. Sepertinya kalau dilihat dari engagement akun media sosial saya kurang tinggi. Makanya kadang heran juga ada yang memilih saya untuk menjadi buzzer.

Siapa klien Anda selama ini?

Ada yang dari agency, ada yang klien langsung. Kalau dari agency ya karena saya bekerja di bidang periklanan, jadi lumayan banyak teman dan rekanan di bidang yang sama. Kalau dari klien lebih karena rekomendasi.

Jadi selain jadi buzzer saya juga sering membantu klien mengatur buzzer.

Bagaimana sistem kerjanya?

Biasanya ada yang disebut “buzzer coordinator” yang bekerja di agency atau independent. Tugasnya selain mengajukan nama-nama buzzer yang dianggap cocok untuk brandnya, juga mengkoordinasi jadwal, strategy dan konten post.

Semacam penengah antara klien dan buzzer.

Anda mendapatkan uang banyak dari profesi ini?

Ini bukan profesi sih ya, lebih ke kerja sampingan. Saya tahu ada banyak yang menjadi professional buzzer. Sayangnya saya gak sampai ke situ. Kalau ditanya soal uang imbalan, lumayan kok. Bisa buat bayar-bayar kebutuhan dasar hidup. Kalau yang profesional bahkan bisa membeli hunian.

Apakah Anda selalu meyakini dengan produk atau jasa yang Anda buzz?

Ada yang iya ada yang tidak. Begini, di bidang periklanan ini saya dilatih untuk selalu melihat dari sisi klien. Banyak juga klien yang sebenarnya tidak yakin dengan produknya, tapi karena satu dan lain hal, produk itu harus diluncurkan. Misalnya dalam rangka persaingan bisnis, atau tes produk, atau bahkan karena pemilik perusahaan sudah kadung membeli mesin produksinya. Dan tugas kami, atau saya, ya membantu klien untuk mencapai apa pun obyektifnya. Kan promosi tidak selamanya harus menjual…

Kalau gak menjual terus ngapain?

Bisa beragam. Misalnya tujuannya adalah untuk menciptakan keriuhan sesaat supaya brandnya didengar. Biasanya secara gampang disebut “awareness”. Atau misalnya ada tuntutan dari perusahaan yang mau IPO (Initial Public Offering – red.) ergh… saya kurang paham detailnya. Atau sekedar untuk menahan laju bisnis lawan. Macam-macam lah. Jadi saya bisa bilang tujuan promosi di media apa pun tidak selamanya berjualan. Walau benar, penjualan itu bisa menjadi penting. Percaya gak kalau aku cerita banyak sekali produk yang diluncurkan, itu memang untuk dimatikan kemudian? Ada banyak alasan sebuah produk itu diluncurkan.

Lagian kan basic bahwa penjualan tak hanya tergantung dari promosi sepertinya sudah menjadi pengetahuan umum ya… ada distribusi, harga kualitas produknya, waktu, dan lain-lain.

Terus gimana mengukur efektivitasnya?

Balik lagi ke tujuannya apa? Efektif tuh apa sih… keberhasilan mencapai tujuan. Beda dengan efisien… mencapai hasil semaksimal mungkin dengan upaya seminim mungkin. Ini yang menurut saya banyak orang ketuker. Misalnya sebuah produk dibuzz di media sosial, kemudian banyak dibicarakan. Tapi kemudian gak laku gitu… Banyak yang kemudian langsung bilang buzzing di media sosial gak efektif. Padahal belum tentu. Bisa jadi memang tujuannya buat diomongin aja. Agendanya apa, yang tau seringnya cuma klien. Bahkan bukan klien seperti Brand Director, tapi level yang lebih tinggi. CEO atau pemilik saham, misalnya.

Bagaimana menurut Anda tentang berpromosi di media sosial?

Waduh ini bisa panjang sekali pembahasannya ya hahahaha Anda mesti membayar saya loh hahahaha.

Singkatnya begini deh, sejak adanya internet dan media sosial ada banyak hal di hidup kita yang berubah. Gak cuma dari sisi promosi kan. Kita yang tadinya mau pesen Ojek mesti ke pangkalan, sekarang bisa pake aplikasi. Dan saya melihatnya kita sekarang lagi sama-sama menyesuaikan diri. Ditambah lagi perubahannya itu berlangsung cepat banget. Jadi kita terus menerus menyesuaikan diri. Begitu pula dengan berpromosi di media sosial.

Ada banyak teori mengenai ini. Saya mesti bilang semua bisa benar semua bisa salah. Dengan perubahan yang terjadi demikian rapid sulit untuk menemukan sebuah teori yang absolut. Satu-satunya cara adalah dengan mengikuti gelombangnya. Belajar berenang dengan arus yang terus berganti. Ini yang mutlak.

Banyak yang berpendapat harusnya media sosial tidak dipakai untuk berpromosi. Media sosial adalah media yang murni untuk sosialisasi. Gimana menurut Anda?

Sebelum ada media sosial, sebenarnya kita sudah berpromosi. Kalau ada yang ingat soal word of mouth. Karena kita lebih percaya apa kata orang ketimbang kata iklan. Apa kata teman lebih dianggap benar ketimbang apa kata mertua, misalnya. Atau sesederhana saran dari teman “makan di XXX aja soalnya enak dan murah loh”, atau “ke gym yang di situ aja soalnya trainernya bagus-bagus” itu kan juga udah bentuk promosi.

Sepertinya secara alami setiap ada kumpulan manusia, maka akan ada promosi. Mau itu promosi bentuknya produk, jasa, bahkan agama, dan lain-lain. Itu udah nalurinya. Bentuknya bisa rekomendasi, saran, dan lain-lain. Bedanya di media sosial kita gak ada kontak fisik, dan semuanya dalam bentuk nama akun saja. Tapi tidak bisa untuk kita bilang di media sosial tidak boleh dipakai untuk berpromosi. Nah bedanya, yang sekarang di media sosial ini kan “berbayar” sehingga banyak orang meragukan kejujurannya saat berpromosi.

Melanjutkan pernyataan Anda terakhir kan banyak yang bilang harusnya kalo promosi bayaran tambahin hestek #ad atau #spon atau lainnya. Itu gimana menurut Anda?

Ini soal kebiasaan. Di radio, iklan radio misalnya, itu awalnya banyak pendengar yang terkecoh. Kita kirain sandiwara radio, ternyata di belakangnya kita tau itu iklan. Pada saat itu, keberhasilan mengecoh itu dianggap bentuk kreativitas. Atau di TV, awalnya kayak film eh ternyata jualan pewangi. Tapi lama kelamaan kita mulai terbiasa dan akhirnya secara naluri kita mulai tau kalau itu iklan. Kemudian menjadi tugas brand dan agencynya untuk mencari cara lain lagi untuk berpromosi. Begitu seterusnya.

Sama dengan di media sosial. Karena masih bisa terbilang media baru, banyak yang terkecoh. Ada yang dianggap kreativitas sehingga jadi responnya positif. Banyak juga yang negatif. Tapi seperti saya bilang di atas kita semua sekarang lagi belajar nih. Sama-sama lagi coba-coba. Di Twitter kan suka ada hestek biasanya kalau untuk promosi. Itu aja harusnya udah menjadi pertanda. Jadi kalau menurut saya hestek #ad atau #spon atau #berbayar itu bisa iya bisa enggak tergantung konteks dan tujuan besarnya apa. Obyektifnya apa. Banyak klien yang memutuskan gak mau pake.

Agak aneh dan lucu juga kan misalnya untuk promosi social cause pake hestek begitu. Misalnya ada tweet “hentikan merokok berbahaya buat jantung #spon”, atau “mari menjaga kebersihan lingkungan kita #ad” hahahaha…. Malah lebih menimbulkan banyak pertanyaan dan kebingungan. Toh sekarang juga pengguna media sosial juga udah semakin banyak yang bisa “mencium” mana yang berbayar mana yang tidak. Semakin dewasa dan semakin lama media sosialnya, postingan berbayar akan semakin mudah terdekteksi tanpa pertanda.

Bagaimana sih ke depannya berpromosi di media sosial?

Wah… kalau saya bisa menjawab ini dengan tepat, saya bisa jadi orang paling kaya di dunia hahahahaha. Tidak tahu. Benar-benar saya tidak tahu. Dengan medianya sendiri yang begitu dinamis sangat sulit sepertinya untuk meramal ke depan. Pertanyaan balik saya sebenarnya, untuk apa pula ini dipertanyakan?

Promosi, periklanan, di media apa pun, sifatnya selalu kekinian. Saat ini detik ini. Apa yang sedang terjadi sekarang. Bagaimana konsumen kita saat ini. Kita bisa tau ke depannya pastinya seperti apa, bisa jadi tidak berguna juga untuk saat ini. Misalnya sekitar 3-4 tahun yang lalu diramalkan media sosial akan beralih dari teks ke video. Pada saat itu sulit untuk dikerjakan. Selain media sosialnya belum mendukung, jaringan internetnya apalagi. Dulu kan wifi aja masih mesti bayar. Baru belakangan video mulai terasa. Apakah yang 3-4 tahun lalu sudah meramal ini lantas menjadi lebih “maju” dari yang baru tau sekarang? Tidak jugaaa… Banyak yang baru tau baru belajar langsung bisa menghasilkan promosi yang baik dan menarik.

Jadi apa dong pegangan kita lah?

Duit? Hahahahaha…. *kemudian hening sesaat*

Apa pun medianya, apa pun zamannya, kita selamanya berkomunikasi dan berpromosi dari dan untuk manusia. Jadi kemampuan, dan keinginan untuk memperhatikan, memahami dan mempelajari manusia dan kehidupannya yang dinamis adalah mutlak. Kita bisa memahami motif manusia memilih barang. Berempati pada manusia akan hasratnya untuk didengarkan dan dihargai. Mengerti keinginan manusia untuk mencintai dan dicintai. Bekal itu yang akan terus membawa kita bergerak dan menjadikan media sosial tempat yang lebih seru dan menarik untuk diikuti. Bekal itu juga yang akan jadi sangat berguna untuk kita berpromosi. Di medium apa pun, di zaman apa pun.

maxresdefault