Ada masanya, setiap masuk ke hunian, ada pojokan hitam yang terasa asing. Pojokan itu ada kompor, kulkas dan beberapa peralatan makan dan masak saja. Rasanya, lantai di pojokan itu paling bersih karena jarang aku lalui. Kadang aku merasa ada makhluk halus besar yang bersemayam di situ.

Sampai di suatu pagi, aku sedang duduk di sofa menonton TV acara memasak. Nigella Lawson pembawa acaranya yang membuat memasak seolah kegiatan yang mudah dan menyenangkan. Entah kekuatan dari mana yang membuat aku berjalan menuju pojokan hitam itu. Tak terasa, 3 jam lebih aku di situ. Segala alat memasak berdebu, kucuci dan kugunakan. Kulkas berisi seadanya, aku kuras. Lemari perkakas yang sudah jadi hunian kecoak jerman, aku bongkar.

Sesudahnya, jadilah Nasi Ayam Jagoan daganganku. Berjalan selama 3 tahun dan sekarang sedang berusaha menemukan hidup barunya. Semoga 2018.

Ada masanya lapangan Soemantri adalah tempat yang gelap. Dari kaca jendela tempat aku ngegym, lapangan itu di malam hari wujudnya mirip kuburan. Hanya ada beberapa lampu kecil menyala. Rumput di arena tengah sepak bola menyebar di beberapa lokasi saja, sisanya tanah basah. Jala-jala gawang hanya ada di satu sisi. Sepertinya, aku bukan satu-satunya orang yang malas ke sana.

Di suatu sore saat sedang berlari di treadmill, aku menonton pertandingan marathon di kota New York. Pelari-pelari berkulit hitam berbadan ceking tampak penuh semangat memimpin di depan. Sementara ribuan pelari jauh di belakang mereka. Penonton di kanan dan kiri jalan bersorak sorai menyemangati semua pelari. Bahkan pelari paling bontot sekalipun. “Sebuah pesta kota yang menyenangkan” pikirku saat itu.

Entah bagaimana mulainya, aku turun menuju lapangan Soemantri dan mulai berlari. Seorang diri di malam hari. Di atas tanah yang basah. 10 kilometer pertama dan kemudian berlanjut sampai 42 kilometer di Bali.

Ada masanya setiap kali memasuki gedung perkantoran, aku selalu melintas saja setiap kali ada bazar. Dari sudut mataku area itu tak lebih dari bidang hitam. Aku tak suka berbelanja di bazar karena bagiku tampak ramai dan gaduh. Kegaduhan yang lebih sering terasa mengganggu aktivitasku. Walau tak jelas mengganggu di mananya. Sementara teman-temanku tak hanya suka, juga rutin berbelanja setiap kali ada bazar.

Sampai di suatu siang, aku sedang meeting di cafe seberang bazar. Mataku menangkap pedagang-pedagang bazar yang berbeda dari bayanganku. Mereka muda-muda, paling masih kuliahan. Dengan tampilan #kekinian dan bergaya asik, tampak seru dan bersemangat menjajakan dagangan di booth masing-masing. Musik asing dari arena bazar itu perlahan masuk ke dalam telingaku, dan ternyata seru juga.

Setelah meeting usai, aku menuju ke bidang hitam di pojok mataku. Tak terasa berjam-jam aku berada di situ. Bukan hanya berbelanja tapi berbincang dengan pedagang yang sekarang disebut millenial. Bazar itu sekarang disebut bazar hipster. Dari situlah awal mulanya aku bertekad suatu saat bisa berdagang barang-barang seperti di bazar itu. Tote Mangkok Ayam yang walau sampai saat ini belum pernah ikutan bazar karena stock selalu kurang.

Di sepanjang karir di periklanan, ada bidang hitam misterius yang selama ini enggan aku kunjungi. Bidang hitam itu bernama ‘digital’. Saat aku kuliah desain, yang namanya komputer adalah benda baru. Seluruh dunia baru belajar mengeja kata “world wide web”. Lima tahun belakangan, setiap kali pembahasan soal periklanan di digital, banyak bagian yang tak aku pahami. Pilihannya ada dua: pura-pura tau aja, atau diam-diam menghilang.

Selama ini aku lebih memilih diam-diam menghilang. Walau keinginan untuk memahaminya semakin lama semakin besar. Aku suka aplikasi. Aku suka hal-hal baru yang bermunculan di dunia maya. Aku suka menonton dan mengambil bagian dari keriuhan terkini di media sosial. Walau Dragono Halim menjuluki aku “sok kekinian” atau “sok muda”, tapi rasa ingin tau lebih besar ketimbang rasa tak tau malu.

“Jadi Digital Planner mau?” Aku hanya bisa mengangguk. Ini, kesempatan satu-satunya dan mungkin terakhir. Yang di kepalaku saat tawaran itu datang cuma satu: aku bisa paham dan ikut dalam perbincangan digital. Tak perlu lagi menutup telinga atau pura-pura atau bahkan sok tau.

Kalau memang rasa ingin tahuku melebihi rasa tak tau malu-ku, salahkan saja Cirque du Soleil yang aku tonton DVD-nya di awal 2010

“Joy has a friend called Fear.
But my faithfull instinct
showed me that after Fear comes Courage.
And Courage has another friend, called Wonder.”