Pria yang sedang duduk di depanku ini, seandainya kita berjumpa 5-10 tahun lalu, mungkin aku akan jiper. Dia adalah salah satu pengarah kreatif biro iklan internasional terkenal yang sudah memenangkan banyak penghargaan. Namanya kondang seantero jagad. Dulu, mengirim CV-ku untuknya pun rasanya kurang percara diri karena porto-ku kurang berkilau. Kurang 3S: sleek, smart and simple, panduan karya iklan yang dinilai baik pada masa itu.

Sekejap aku membayangkan seandainya di depanku saat ini adalah David Droga, Linda Locke, Jureeporn atau Tham Kai Meng atau bahkan Neil French (para dewa iklan dunia masa lalu – red.) apakah aku akan jiper? Sejujurnya dan secara mengejutkan, jawabannya tidak. Lebih tepatnya aku tidak menemukan mau ngobrolin apa. Aku sudah lupa mereka pernah bikin iklan apa saja, satu-satunya topik yang bisa bikin perbincangan kami menarik.

Hanya ada dua nama pengarah kreatif yang berbincang di depannya akan menjadikanku jiper: Yasmin Ahmad yang sayangnya sudah almarhumah. Dan Prasoon Joshi. Bersama Yasmin tentunya aku akan banyak berbincang soal kehidupan dan film-filmnya. Bersama Prasoon aku akan bertanya banyak soal kelihaiannya menulis lirik lagu yang ngehits di India. “Kalau Prasoon menulis lirik lagu, maka liriknya akan masuk ke dalam hati orang-orang dari yang tinggal di rumah gedong sampai gubuk paling sederhana di India” begitu Prasoon diperkenalkan kepadaku suatu ketika di Bali.

The late Malaysian movie producer and director Yasmin Ahmad’s legacy lives on at the Yasmin At Kong Heng museum in Ipoh.
NEW DELHI, INDIA – MAY 22: Lyricist Prasoon Joshi recite poems of Ramdhari Singh Dinkar at a function organised to celebrate golden jubilee of Ramdhari Singh Dinkars works ‘Sanskriti Ke Chaar Adhyay’ and ‘Parshuram Ki Prateeksha’ at Vigyan Bhavan on May 22, 2015 in New Delhi, India. (Photo by Mohd Zakir/Hindustan Times via Getty Images)

Kembali ke pria di depanku ini. Dia ada di depanku karena dia ingin mencari tau lebih dalam perihal pemahamanku soal periklanan di digital.

“Menurutmu, apa yang membuat digital berbeda dari iklan konvensional?” tanyanya memulai perbincangan kami.

“Kamu beneran pengen tau atau sedang mengetes akuuu” tanya aku meyakinkan.

“Aku ingin belajar masuk ke digital… makanya bertanya” jawabnya.

“Aku tidak lebih tau, tapi sepertinya model pengarah kreatif “diva” tak lagi relevan sekarang. Tau kan, model pengarah kreatif yang gak mau lagi turun tangan dan lebih suka nyuruh-nyuruh dan seolah ‘ngasih direction’ yang kemungkinan directionnya pun salah…” jawabku sambil tertawa.

“Hahaha aku tau yang kamu maksud. Tapi kenapa tak lagi relevan?”

“Ya karena sekarang ada lebih banyak orang-orang kreatif di luar bidang periklanan bermunculan dan mereka diakui karya dan kreativitasnya. Sehingga kalau kita mau bertingkah diva, siapa yang mau menanggapi? Apa artinya bertingkah diva tanpa pemuja kan?”

“Mereka siapa?”

“Well yang paling terkenal sekarang Mark Zuckerberg, tadinya ada Steve Jobs, Bill Gates… you know… those creators that allow us to live life like we have now. Gojek Grab Uber creators. Social medias inventors… Mereka-mereka lah…”

“Menurut kamu apa yang pertama kali harus dilakukan oleh kita, yang disebut pengarah kreatif masa lalu?”

“OWH… GOD… ZERO YOUR EGO… you see, dunia iklan itu paling jagoan bikin ego pekerjanya melambung”

“Contohnya?”

“Kita suka memberikan penghargaan kepada diri kita sendiri, kita suka memberikan gelar kreatif pada diri kita sendiri, yang memang sangat berguna saat kita masih di dalamnya. Tapi begitu kita memutuskan untuk keluar dari zona ini, maka bersiaplah untuk jadi bukan siapa-siapa”

“Hmmm…”

“Aku menceritakan ini berdasarkan pengalamanku sendiri 12 tahun yang lalu. Saat aku memutuskan untuk keluar dari biro periklanan dengan jabatan tinggi. Untuk beberapa saat aku kaget mengapa tak ada lagi yang mempedulikanku. Ke mana mereka yang selama ini mendekatiku? Post-power syndrome mungkin. Tapi untungnya aku 12 tahun lebih muda sehingga memberikanku waktu lebih banyak untuk beradaptasi”

“Terus sekarang?”

“Aku suka di lingkungan di mana aku bisa belajar banyak hal baru. Dan suka risih kalau ada yang memanggilku dengan embel-embel pemujaan yang menurutku tak lagi relevan.”

“Dalam bekerja, apa yang paling membedakan?”

“You know, dulu sepertinya kita menghabiskan banyak waktu untuk brainstorming dan berusaha untuk menggali lebih dalam. Sekarang sepertinya waktu untuk itu tidak ada lagi. Semua bergerak dengan lebih cepat. Dulu kalo kita brainstorming, itu untuk ditayangkan di televisi dan billboard yang umurnya bisa berminggu, berbulan bahkan bertahun. Sekarang? Yang kita buat umurnya kadang hanya beberapa jam saja. So it’s either we make it or we don’t in 3 seconds.”

“Lalu…”

“Ya dulu kita takut kalau yang kita buat salah, karena ada investasi besar di belakangnya. Tapi sekarang? Delete and repost. Dalam hitungan detik. Tapi ada keseruan sendiri dengan cara ini. Kita jadi bisa lebih bereksperimen. Coba-coba. Banyak ladang di digital yang belum banyak dikerjakan orang. Jadi kita bisa jadi yang pertama mencobanya.”

“That’s interesting”

“Very… Tau gak, sekarang aku tak lagi bisa braintorming lebih lama dari 30 menit. Lebih dari itu, aku mulai gak tenang takut ada pesan penting di Whatsapp dan lain-lain. Aku juga jadi lebih cepat bosan mendengar obrolan orang-orang. Kadang lebih seru membaca tulisan mereka di media sosial karena sepertinya mereka lebih terbuka di media sosial. Dan bisa menyampaikan pemikiran dan perasaannya lebih baik di Insta Story misalnya. Lagian ada perasaan, kalo kelamaan mikir keburu dibalap orang, hahahaha”

“Can we contribute anything now?”

“OF COURSE!!! You know those so called millennials the digital amphibi, they know about people but not human. Interaksi mereka lebih sedikit, kalau pun sedang berinteraksi pikiran mereka tak sepenuhnya ada di situ. Sementara kita dilatih untuk itu. Pemahaman kita tentang manusialah yang kita bawa ke meja meeting dengan klien. Pemahaman kita tentang kehidupan yang kita presentasikan. Seharusnya generasi sebelum ini punya kemampuan observasi yang lebih baik. Kemampuan inilah sepertinya yang bisa membantu mereka. Millennials, Xenials, Gen X, Y, Z… adalah manusia juga kan.

“Di digital?”

‘OF COURSE!!! Mau bentuknya square, horizontal, vertical, lima kali lima atau lima meter kali lima meter sekalipun, mereka tetaplah media. Kanvas kosong untuk kita menyampaikan sesuatu. Untuk menghembuskan kehidupan pada kanvas itu, sepertinya tak ada yang lain selain pemahaman kita tentang manusia dan kehidupannya.”

“Apa yang harus kita lakukan pertama kali?”

“Activate all your social media accounts… hahaha interact with strangers on social media, sell something on some platforms, try the latest apps… apalagi ya… Have a blog. Be a blogger. Be a celebgram if you can. Be an influencer so you know the power of social media instead of being cynical. Be a Youtuber if you wish… You are not bad looking so yeah you can hahahaha Owh ya… jadilah kepo. Di internet ada banyak bubble-bubble yang setiap bubblenya berisi manusia-manusia dengan keterarikan serupa. Masuk ke dalam bubble-bubble itu bisa bikin kita semakin memahami dan ya… bikin kita semakin kaya.”

“Bubble apa yang sedang kamu masuki saat ini?”

“Islam. Terutamanya yang garis keras. Aku ingin tahu apa yang sedang mereka perbincangkan. Hijabers. Aku ingin tau apa yang mereka sukai. Aku ingin memahami idola mereka. Dan sebenarnya semakin lama aku mendengarkan mereka semakin aku menyadari kita lebih banyak persamaan ketimbang perbedaan. Sebelum ini aku juga ikut membaca perbincangan di bubble bumi datar.”

“Sepertinya kamu harus menuliskan perbincangan ini di blog-mu”

“Hahahaha kenapa?”

“Akan berguna untuk aku dan teman-teman seangkatanku”

“Tapi aku takut jadi seperti seorang narsis yang menulis perbincangannya sendiri”

“Hey! It’s Me Generation… Nyemplung aja lebih dalam”

Perbincangan kami semakin menarik. Malam semakin larut. Saat aku iseng membuka insta stories baru aku sadari malam Citra Pariwara 2017 baru saja usai.