Di awal nama Anies mulai sering disebut di Twitter, begitu banyak orang yang memujanya. Termasuk teman-teman terdekat saya. Mereka semua kagum dengan kepandaian Anies berbicara dan ide Indonesia Mengajar yang dielu-elukan sebagai terobosan yang mencerdaskan bangsa. “Dia itu orang baik” begitu kata teman saya yang baru selesai menyaksikannya berpidato “wah lo kalo dengerin pasti kagum lah!” lanjutnya.

Banyak pula yang ikut ke dalam gerakannya. Beragam hashtag tercipta untuk mendukung setiap gerakan yang diinisiasi oleh Anies. Tak ketinggalan, foto bersama Anies menjadi syarat mutlak selebtweet pada masa itu. Disela-sela puja dan puji itu terselip harapan agar suatu saat nanti Anies bisa menjadi pemimpin bangsa. Atau setidaknya ya… petinggi publik lah.

Demikian pula Sandi. Seluruh pelari pasti tau gerakan Berlari untuk Berbagi, sebuah gerakan berlari sambil mengumpulkan donasi untuk berbagai niat baik. Selain berwajah rupawan, dengan tubuh yang atletis, dan kemampuan bercakap yang mempesona, menjadikan Sandi idola banyak orang. Berlari sambil mengenakan kaos bertuliskan gerakan Sandi semacam menjadi kebanggan sendiri.

Tak terbilang pula teman-teman yang ikut dalam gerakan ini. Mereka begitu bangga mengupload foto bersama Sandi. Apalagi kalau acaranya adalah acara tertutup dan eksklusif di hotel berbintang seperti saat Sandi berpamitan untuk melepas segalanya dan masuk ke ranah politik. Tentu banyak yang berharap padanya dan bersiap-siap untuk memberikan dukungan sepenuhnya.

Di saat ini terjadi, mereka yang memilih untuk diam atau menolak untuk mendukung, akan “dikucilkan” dalam pergaulan. Tidak masuk dalam “the coolest gang” di timeline. Banyak perbincangan internal yang tak dipahami berseliweran di timeline Twitter yang pada saat itu belum seramai sekarang.Tak diikut sertakan dalam acara-acara bernuansa cinta tanah air dan bangsa. Pendapatnya tak didengar apalagi diberikan corong. Berbagai cap dan penghakiman pun terlontar dengan mudahnya. Apatis. Apolitis. Atau sesederhana “ah dia mah cuma mau cari duit doang”.

Belum sampai dua tahun, terasa baru kemarin semua pujian dan harapan ini runtuh menjadi hinaan dan cacian. Terbaca jelas dari kelas menengah di media sosial. Sekumpulan orang yang tadinya memuji dan mendukung sekarang menghina dan menjelek-jelekannya. Berbagai nama ejekan baru diberikan untuk Anies dan Sandi. Dan entah kenapa, seperti panggung mereka sering menampilkan yang tak pernah terduga akan mereka lakukan sebelumnya sebagai pemenang PILKADA DKI.

2017 hampir berlalu. Salah satu pelajaran terpenting yang bisa kita ambil dari banyak kejadian populer, mata semakin menjadi penipu ulung. Yang tampilannya bijaksana nan alim, ternyata pelaku pelecehan seksual kondang. Yang kelihatannya mewah dan terkenal, ternyata berhutang pada puluhan ribuan manusia. Yang fisiknya tampak menawan, ternyata menyimpan penyakit yang mengakhiri nyawanya. Yang di media sosial menampilkan keromantisan, ternyata selingkuhan. Yang selalu mengutarakan semangat santun beragama, kemudian terbukti koruptor kakap. Dan banyak kejadian lagi yang membuat kita berpikir, walau berulang kali diperingatkan, mengapa kita masih sering tertipu.

Betapa mudah kita mempercayai apa yang terlihat dan betapa malas kita mencari fakta dan kebenaran. Tragisnya, ini semua justru terjadi saat informasi seharusnya semakin mudah untuk dicari. Kita lebih memilih untuk membaca informasi yang ingin kita percayai saja. Menyebarkan berita yang judulnya sensasional padahal isinya beda sama sekali. Dan yang lebih parahnya, kita semakin mudah terpancing emosi hanya dengan membaca sebuah cuitan atau postingan. Tak jarang, kelakuan kita membawa kerugian besar pada kita sendiri.

Pendukung fanatik Anies dan Sandi sebelum Pilkada, kini berbalik memperolok pendukung fanatik Anies dan Sandi sesudah Pilkada. Padahal Anies dan Sandi tetaplah manusia-manusia biasa yang selalu berubah dan hanya memainkan peran yang dipilihnya. Perubahan sikap yang drastis ini tentu bisa mendapatkan pembenaran karena mereka berdua dianggap mengecewakan. Padahal udah berkali dibilang, kalo gak mau kecewa, jangan ngarep.

Kapan kita bisa menerima bahwa berpolitik sama seperti bekerja di bidang yang lainnya. Sama-sama tak mungkin mengambil keputusan yang membahagiakan semua pihak. Kalau karyawan mendapatkan KPI dari bosnya, maka politikus pun mendapatkannya dari penyokong dan pendana terbesarnya. Sama-sama soal kepentingan. Perbedaan terbesarnya tentu pada tanggung jawab. Satu pada perusahaan yang berisi ribuan hingga jutaan karyawan, satunya lagi pada negara yang berisi sebagian atau seluruh rakyat.

Anies Sandi kini bukan lagi Anies Sandi yang dulu. Pasti tak semua yang mereka lakukan sesuai dengan hati nuraninya. Ada banyak kepentingan yang harus dipertimbangkan. Ini dilakukan siapa pun pemangku jabatannya. Selamanya sebagai penonton kita akan kesulitan membedakan. Bisa jadi merekanya belum berubah, cuma sedang “bertugas”.

Kalau mau diambil pelajaran terpenting untuk ke depannya, terutamanya 2019, adalah mengurangi kefanatikan pada manusia. Anies dan Sandi adalah manusia juga. Dan berkali juga sudah diperingatkan, satu-satunya kepastian adalah perubahan. Anies dan Sandi berubah. Kita semua berubah. Anak kita berubah. Orang tua kita berubah. Pasangan kita berubah. Supir Gojek kita berubah. Selera kita berubah. Pemahaman kita berubah. Bahkan tak jarang, agama pun berubah. Lalu, masih adil kah kita berharap Anies dan Sandi tetap sama?

Kita sering berharap perubahan walau sayangnya, perubahan tak selamanya seperti keinginan.

Menyisakan satu pelajaran terpenting lagi, untuk tidak pernah tergila-gila memuja atau menghina sesama manusia. Pemuka agama panutan bisa berzinah. Pemimpin idola bisa korupsi. Bahkan orang tua pun bisa memperkosa dan membunuh anaknya sendiri. Jadi, jangan salahkan manusia yang berubah. Tapi salahkan diri sendiri yang berharap terlalu banyak. Dan membangun imajinasi atas seseorang berdasarkan asumsi hanya dari yang kelihatan. Sepertinya, manusia kekinian berhenti di mengetahui bahwa selalu ada banyak sisi di setiap hal tapi tak ingin menerimanya. Mengetahui bahwa perubahan adalah kemutlakan, tapi tak selalu siap untuk menghadapinya.

Tak selamanya mereka yang diam, berarti tak mendukung. Mereka yang memutuskan untuk nonton, tak bergerak di belakang layar. Dan sebaliknya, mereka yang di depan mata mendukung di belakang malah berkhianat. Mereka yang beraksi kencang ternyata sekedar ingin mengambil keuntungan pribadi. Kemampuan untuk membaca situasi dan menahan diri untuk berkomentar, sepertinya bisa menjadi latihan yang baik di zaman now. Bahkan kalau perlu masuk kurikulum sekolah dasar.