Mendengar berita kematian Jonghyun di tengah kesibukan membuat saya tak terlalu memperhatikannya. Apalagi saya bukan pemerhati KPop. Sampai ketika saya membaca berita bagaimana keluarga Jonghyun setengah mati mencoba menyelamatkannya. Seketika rasa simpati pada keluarga terutama Kim Song Dam kakak tertuanya tumbuh dan membawa pada suatu masa saat salah seorang anggota keluarga terdekat kami menderita depresi.

Pangkal Pinang, sekitar tahun 1980-an. Saat itu, penderita depresi lebih sering disebut “orang gila” atau mencari perhatian akut. Bedanya psikolog dan psikiater pun tak banyak yang tahu. Lebih mudah mencari pertolongan dari orang pintar, atau Romo yang dikabarkan mampu menyembuhkan. Semuanya berdasarkan apa kata orang. Atau apa kata anggota keluarga terkaya. Yang saya ingat, segala cara dilakukan untuk membantu. Semampunya, sebisanya.

Saya masih ingat bagaimana ketiga anak yang menjalani hidup tak seperti yang lain. Selain rasa malu, ada perasaan tak menentu. Setiap hari ada saja “kejutan” yang tak masuk akal sehat. Marah-marah tanpa sebab. Tiba-tiba sedih sampai terpuruk di pojok ruangan. Dan banyak pula hari-hari yang berlangsung normal. Naik roller coaster kita tahu ujungnya akan berhenti dan tertawa. Sementara ini, tak pernah ada yang bisa menduga bagaimana akhirnya dan yang lebih menyedihkan, tak tahu sampai kapan.

Bukan sedikit tenaga dan biaya yang sudah dikeluarkan. Dari biaya yang memang harus dikeluarkan sampai uang yang raib tanpa kejelasan. Saya masih ingat bagaimana Ibu saya bercerita kebingungannya. Saat didekati, lebih sering diusir. Saat dijauhi, dia mencari perhatian. Segala dilakukan untuk mendapatkan perhatian bahkan sampai bisa membahayakan dirinya sendiri. Begitu seterusnya sampai akhir hayatnya.

Rumah Sakit Jiwa di kota kecil itu menjadi saksi kebingungan keluarga. Saat diantar ke sana, kadang dia meronta-ronta sampai keluarga iba melihatnya. Saya tidak melihatnya sendiri, karena saya masih terlalu kecil. Cerita soal dia diikat di ranjang seperti dipasung, sayup-sayup terdengar kembali. Membuat saya kini bersimpati lebih kepada keluarga dan orang-orang terdekat penderita depresi.

Semakin bertambah usia, semakin banyak pula teman-teman di sekitar saya yang menderita depresi. Seiring bertambah majunya informasi, semakin banyak yang bisa saya ketahui. Walau, semakin banyak tahu, rasanya jadi semakin banyak tak tahu. Baru dua hal yang saya pahami, depresi berbeda dengan sakit jiwa (baca: orang gila) dan memiliki spektrum yang luas. Yang pasti, di depan mata saya sendiri saat ini saya sedang melihat dan bersama penderita depresi yang sedang berjuang melawan untuk hidup normal kembali.

Di media sosial, terutamanya Twitter, saya sering membaca anjuran untuk selalu mendekati dan mendengarkan mereka. “Mendengarkan bukan hanya mendengar mereka” begitu salah satu cuitan saran yang saya baca di timeline. Percayalah, bukan tak pernah mencoba. Berulang kali bahkan sudah mencoba.  Kadang berhasil. Kadang gagal. Dan kadang membuat saya merasa tak berdaya. Saya, “hanya” teman mereka. Bagaiman dengan keluarga mereka?

Sinnead O’Connor pernah memposting videonya di Facebook sedang merasa ditinggal oleh keluarganya. Saya tidak serta merta menyalahkan keluarganya. Karena juga ada kemungkinan Sinnead yang sedang menjauh dari keluarganya. Dan ini di luar kendali dan kuasa Sinnead maupun keluarganya.

Kesedihan saya paling dalam adalah perasaan kehilangan saat seseorang masih hidup. Rasanya ini lebih menyedihkan ketimbang kehilangan karena meninggal. Kalau meninggal, itu takdir. Saya bisa perlahan menerimanya. Kalau depresi, ada saatnya penderita bisa hidup seperti normal. Membuat kita berharap bisa terus membaik. Sampai kemudian serangan kembali datang dan harapan itu kembali menguap. Begitu terus menerus.

Banyak diantara mereka yang mendapat pertolongan medis. Karena prosedural, maka obat-obatan menjadi jalan pertama. Sayangnya, banyak yang kemudian menjadi tergantung dengan obat-obatan. Bukan dari masalah satu ke masalah lain, tapi masalah kwadrat. Karena depresinya sendiri belum pulih. Belum lagi yang alergi dengan obat-obatan tertentu. Membuat penderita mengalami gangguan fisik. Menggigil, muntah-muntah, insomnia, sampai pingsan pun pernah dialami teman-teman saya.

Di saat seperti itu, saat mereka bisa berbincang dan curhat, saya bahagia setengah mati. Bukan bahagia karena saya bisa membantu menyelamatkannya. Karena saya bisa bertemu dengan “teman lama” sebelum dia “pergi” lagi. Saya belajar untuk tidak berusaha memberikan nasehat karena menurut yang saya baca, bukan itu yang mereka perlukan dari saya. Saya belajar untuk mendengar dan berusaha memahami. Dan saat saya sedih pun, saya belajar untuk tak memperlihatkannya di depan mereka.

Seorang teman terdekat di suatu siang menyampaikan kabar dia sedang menderita depresi. Saya hanya bisa berpesan bahwa saya akan ada selalu untuknya. Bayangan ombak yang perlahan membawanya jauh ke tengah samudera terlihat dengan jelas. Padahal baru kemarin rasanya kita makan malam bersama sambil bercerita panjang lebar melewati malam.

Saya pun tak menyalahkan yang menganggap penderita depresi adalah orang-orang yang sedang cari perhatian. Karena sejujurnya, di tahap awal saya pun mengira demikian. Saya tak merendahkan mereka yang yakin bahwa depresi bisa disembuhkan dengan pola makan yang benar. Saya pun pernah mengira demikian. Bisa jadi benar. Tapi tantangannya sungguh luar biasa di batas tak mungkin.

Benar, saya tak akan paham menderita depresi. Pun saya tidak sedang berusaha memberikan solusi. Saya bukan ahlinya. Saya hanya ingin menyapa dan merangkul keluarga dan orang-orang terdekat penderita depresi. Karena saya bisa merasakan bagaimana mereka pun sedang kehilangan kehidupan mereka sendiri.