Tapi yaudahlah, emang gitu. Kalo memang di pikirannya segala yang berbau seks harus dimusnahkan, silakan saja. Pandangannya tentang seks, ya segitu itu aja. Gosah ngarep lebih. Walau hati kecil ini yakin, Rudi udah tau ngeblok aplikasi semacam Blued adalah kemustahilan. Yakeleus… hare gene. Selain ada banyak cara untuk ngedobrak itu, juga akan muncul aplikasi-aplikasi serupa lainnya. Yang mungkin Rudi lupa, di Twitter tempat akun pribadinya diverifikasi, ada banyak aktivitas seksual berlangsung. Kemungkinan besar jumlah followersnya jauh berlipat dari followers Rudi.

Pada awalnya memang Blued akan terkesan seperti Bigo buat kaum gay dan trans. Ada banyak membernya yang joget erotis dan bahkan banyak yang sekalian melakukan adegan seksual. Selain mungkin melampiaskan hasrat terpendam untuk eksibisionis, juga bisa mengumpulkan “beans”. Beans itu adalah koin yang bisa dibeli via akun Google atau iTunes. Harganya bervariasi, dan penerima beans pun bisa mencairkannya. Kaching!

Tapi jangan dikira ini uang gampang. Untuk bisa meraup penonton dan beans yang banyak, tentunya harus punya modal bentuk tubuh ideal, dan kemampuan untuk “tampil”. Ada berapa sih diantara kita yang punya body “tampilable”? Belum lagi masuk ke detail soal ukuran alat kelamin yang harus memukau. Lokasi yang menunjang. Tema. Musik. Sebelas dua belas lah dengan persiapan shooting iklan :p

Di awal Blued mulai rame, ada pengawas yang akan ngebanned user yang melakukan adegan-adegan mempertontonkan alat kelamin atau seksual ( “benet? apa sih sih benet? owh… banned” ) To be fair, peringatan melarang ini sebenarnya selalu diberikan setiap kali hendak menonton atau tampil. Dalam perkembangannya suar Blued dibagi dua: private dan public. Di private, kita bisa mengundang akun siapa saja yang boleh menonton dan penonton pun mendapat peringatan 18+ sebelum menonton.

Karena aplikasi yang dimulai 2012 ini bisa memberikan penghasilan langsung kepada penggunanya, ya pastideh semakin banyak penggunanya. Belum lagi ada banyak program-program berhadiah yang diadakan seperti jalan-jalan ke Thailand bagi para bintang Blued yang berhasil mengumpulkan beans dan viewers terbanyak. TIDAK SEMUA member bugil-bugilan di depan kamera. Banyak yang hanya ngobrol-ngobrol chantique seperti sedang menyapa para penggemarnya. Ada yang curhat, ada yang buka tarot, dan sebagainya.

Ada potensi besar Blued bagi Indonesia yang Rudiantara akan selamanya gagal paham. Belakangan, semakin banyak bintang member yang terkenal bukan semata karena fisik dan adegan bugilnya. Tapi ada waria, ada suami penasaran, ada dokter, ada penderita HIV, ada gay yang autis, dan aneka ragam kehidupan yang selama ini mau gak mau terpinggirkan.

Seorang bintang waria di Blued, bercerita tentang kehidupannya di kota Jakarta. Tentang perjuangannya menjadi waria, hubungannya dengan keluarganya, pelecehan seperti apa yang pernah dialaminya, body image, operasi kelamin yang semuanya disampaikan dengan ringan dan membumi. Di negara ini, di mana lagi bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan seperti ini. Acara nonton untuk kaum LGBT aja diserang sampai abis.

Seorang suami heteroseksual, yang memiliki ketertarikan pada homoseksual tampil dengan menutup mukanya. Ada banyak pertanyaan-pertanyaan menarik disampaikan misalnya soal apa enaknya sih penetrasi via anus. Bagaimana mengetahui role dalam berhubungan badan. Bagaimana kalo ketagihan. Rasa bersalah yang menghantui. Sampai curhat mengenai keadaan rumah tangganya yang gak jarang bikin penonton semakin berempati.

Seorang pembaca tarot yang dengan ikhlas meramal. Penderita HIV yang dengan leluasa menyampaikan perasaannya diselingi saran-saran bagi pelaku seks aktif. Perbincangan mengenai alat kontrasepsi, pelindung, dan hal-hal penting lainnya yang selama ini tidak pernah ada ruang tersisa bahkan di dalam keluarga terdekat sekali pun. Rudiantara mungkin belum tau kalo cerita mengenai orang mengenakan kondom di jempol (karena mengikuti peragaan dari penyuluh) dan menjadi anekdot itu bukan fiksi. Makanya belakangan penyuluhan dilakukan dengan menggunakan dildo.

Lebih baik mengatur dan mengawasi semakin menyebarnya obat-obatan seputar alat kelamin dan seks yang bisa membahayakan kehidupan. Tahayul alat reproduksi yang tumbuh bebas tanpa bisa dipertanggung jawabkan dan tak jarang menjadi penyebab kematian. Penanganan dan pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan. Seandainya Rudi tau lebih banyak, Rudi bisa menggunakan yang sudah tersedia dan berkembang ini sebagai sarana informasi yang berguna.

Ada banyak masalah-masalah yang bisa dibantu selesaikan oleh aplikasi macam Blued seandainya saja rasa empati bisa lebih besar. Tak terlalu cepat menilai. Dan kemampuan untuk melihat potensi ketimbang ancaman. Hasrat lebih besar untuk memenuhi kebutuhan yang terpinggirkan ketimbang selalu menyenangkan yang di tengah. Karena selamanya mereka akan ada. Pun semua dibasmi hari ini, besok akan ada lagi.