Demi membuat hidup di ibukota yang sumpek ini sedikit menyenangkan, saya dan seorang teman dekat sering melakukan kegiatan-kegiatan tak lumrah. Mulai dari mencoba jadi pengamen di jalanan, menjadi waria di taman lawang pada suatu masa, membayangkan jembatan penyebarangan sebagai catwalk, pura-pura berantem di halte busway, sampai ikutan teman bomber bikin mural lepas tengah malam buta.

Sudah lebih dari 3 tahun kami melakukannya. Waktu itu saya baru putus dari sebuah hubungan dan berencana meninggalkan kota ini. Dan dia baru balik dari sekolah dan bekerja luar negeri sedang frustrasi dengan kota ini. F*<K JAKARTA lah pokoknya. Ide ini muncul saat kami sedang bermalam mingguan bersama. “Kata orang, bukan soal tempatnya tapi sama siapanya” begitu yang kami yakini.

Supaya lebih menarik, setiap kali kami melakukan kegilaan ini, ada satu syarat mutlak: tidak boleh bawa hape. Tidak boleh merekam apa pun secara elektronik. Semua hanya boleh direkam dalam ingatan. “Kita kenalan waktu handphone bahkan belum bisa jadi kamera. Selama di luar negeri, semua kenangan itu sering kembali. Tanpa foto dan dokumentasi apa pun untuk mengenangnya. Semua yang kita lakukan malah jadi selamanya tersimpan di sebuah ruang di dalam hati. Bukan di foto album.” Beklah…

Kegilaan terakhir yang kami lakukan terbagi dalam dua jilid. Yang pertama saat liburan Sincia kemarin, kami menyediakan anggaran sebesar 15 juta untuk masing-masing dan kami bebas berbelanja apa pun. APA PUN! Dan kegilaan yang satunya lagi, baru kami lakukan hari ini, kami berjalan menelusuri kota ini, tanpa uang serupiah pun. TANPA SERUPIAH PUN.

Pasti sering kita ngomong ke diri sendiri, berandai-andai punya uang banyak, maka pengen beli ina inu. Terutamanya saat keuangan lagi tiris. Makin tiris, sepertinya makin besar keinginan. Hari ini, masing-masing punya uang 15 juta untuk dihabiskan. Boleh sampai ludes di berbagai mall yang kami kunjungi. Percaya atau tidak, di ujung hari saya berbelanja 3 kaleng Diet Coke. Dan dia berbelanja sekotak buah Kiwi isi 6. Itu saja. Kok bisa?

Di awal kami memasuki sebuah mall, dengan penuh semangat kami mendatangi toko-toko yang selama ini menjual barang-barang yang kami minati. Saat barang sudah di depan mata…

“Bagus gak?”

“Not bad…”

Sebelum akhirnya barang ditaruh kembali tak jadi beli. Bisa jadi karena merasa tak terlalu membutuhkan. Atau karena harganya sepertinya terlalu mahal. Atau koleksi lama dan sebaiknya menunggu sampai yang baru datang. Alasan-alasan lainnya yang sama sekali tak terduga akan muncul saat tak punya duit.

Setelah memasuki toko ketiga, bosan dan lelah mulai datang. “Ngopi aja yuk!” Di sebuah pojokan mall kami berbincang sambil ngopi dan makan. Tak terasa sore pun datang. “Kita masih bisa ke mall sebelah loh!” Beranjak ke mall sebelah, ternyata tak terlalu banyak membawa perubahan. Malam datang. Makan malam. Ke supermarket. Pulang.

Sebelum tidur kami berdua berbincang. Mungkin karena emang di usia kami tak lagi memerlukan banyak barang. “But, 9 million for a hoodie with Anti Social Social Club printed on it, doesn’t make sense for any age”. Gak juga sih. Kalo kami masih belasan mungkin kami akan segera membelinya. Tapi di usia segitu, pake uang dari mana? Perbincangan kami melebar perihal berat dan mahalnya jadi orang tua yang memiliki anak remaja di kota ini. Oh well… kami tidur pulas malam itu. Uang aman. Lega.


Persiapan hari ini lumayan matang. Karena tak boleh membawa uang, maka tas kami isi dengan minuman dan berbagai kebutuhan yang biasanya dibeli di jalan. Lumayan berat jadinya. Dan tentunya, harus berjalan kaki. Mana Jakarta lagi panas-panasnya belakangan. Tapi yasudahlah… MARI BRENGKI!

Baru sekitar 5 kilometer kami berjalan, di depan sebuah rumah kuno ada kursi kayu panjang di bawah pohon besar. Kami pun memutuskan untuk duduk di situ. Sambil minum dan terdiam karena lelah, sambil mengagumi desain rumah kuno itu. Halamannya dipenuhi dengan aneka bunga terawat dengan apik.

“Kalo kaya raya, pengen sih punya rumah kayak gini”.

“Di Jakarta?”

“Enggak harus sih… Jogja kali”

Kami melanjutkan perjalanan. Dan sepertinya kali ini arah perjalanan kami lebih jelas. Mencari rumah-rumah di kawasan Menteng dan Cikini yang sesuai dengan selera kami masing-masing. Walau sama-sama suka rumah kuno, tapi sepertinya perbedaannya ada di pagar. Saya lebih suka pagar terbuka sementara teman saya lebih suka pagar tertutup. Dia merasa tidak nyaman kalau keluar pintu rumah dan langsung terlihat dari jalan.

Dari perbincangan rumah, kami lanjut berbincang soal trotoar yang kondisinya cukup baik tapi sepi pengguna. Soal kali yang melintasi kota ini. Soal nama pohon-pohon yang kami temui. Ondel-ondel yang tak sengaja lewat. Sayang kami tak membawa uang serupiah pun untuk diberikan. Maafkan kami Ondel-ondel…

Kemudian kami pun masuk ke kawasan Taman Ismail Marzuki. Ke toko buku bekas di pojokan. Menonton sekumpulan remaja sedang berlatih tarian. Sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk lagi. Kali ini di emperan jalan.

Baru saja dua teguk air melewati tenggorokan, seorang pengemis berhenti di depan kami.

“Maaf Pak”

“Sedikit aja, buat ongkos pulang”

“Kami juga lagi gak pegang duit, Pak… Dompet juga gak bawa.”

“Kalo gak mau ngasih, gak mau ngasih aja! Gak usah bohong gitu! Beneran gak punya duit nanti, baru tau rasa!”

Melanjutkan perjalanan, kami melewati sebuah cafe tempat nongkrong kami.

“Pengen yaaa”

“Ergh… mayan… Bentar lagi jam 6, pulang yuk! Mayan nih jalan kaki balik”

Sambil melewati jendela kaca cafe itu tiba-tiba

“WOI MAIN LEWAT AJAAAA, MAMPIR KEK… HALO-HALO KEK” teriak pemilik cafe itu tiba-tiba keluar dari cafe dan mendatangi kami.

“Lagi gak bawa duit monyooong, bikin kaget aja luuu”.

Lima belas menit berikutnya, kami sudah duduk bertiga di cafe itu. Dua gelas es cappucino, sepiring singkong goreng keju dan sepiring kue nastar menemani perbincangan kami bertiga.


Malam Minggu pun sebentar lagi tiba. Banyak pasangan muda mulai memasuki cafe ini. Kami pamit. Sebelum berpisah

“Nanti gue transfer ya….”

“GUE TABOK YA!”

Karena matahari sudah pamit duluan, angin sepoi mengiringi perjalanan pulang jadi ringan. Melintasi sebuah jembatan

“Boleh tulis di blog gak?”

“Ergh… Suka ya?”

“Suka.”

“Boleh kalo gitu.”

 

Di langit berwarna jingga

aku bisa meihat wajah kalian

itulah alasan aku hidup di kota ini

ku tertegun dan terkesima

melihat indahnya alam berwarna

membuat aku sadar

akan jauhnya kampung halaman.

tempat mencari uang

walau tak ada ruang

raih impian sekilas gampang

tapi semua tak semudah membalik telapak tangan

di dalam kesempitan mencari kesempatan

karena hidup kadang penuh beban

melangkah terus ke depan sambil menatap

mentari terbenam

Jakarta Sunset – Hiroaki Kato