“Anak kampung” dan “anak kota” selamanya akan jadi pembahasan menarik di mana pun. Anak kampung, selain identik kedekatannya dengan alam, juga terampil saat menolong dirinya sendiri. Sementara anak kota, identik dengan teknologi. Dengan pengetahuan dan tren terkini. Misalnya memasak, anak kampung bisa memasak menggunakan tungku kayu bakar. Sementara anak kota, menyalakan kompor sendiri pun belum tentu bisa. Anak kampung, berbadan atletis karena lebih banyak bergerak di alam bebas dengan kulit hitam rambut pirang karena terbakar matahari. Anak kota, badannya berotot hasil latihan di gym dengan rambut hitam dan kulit putih karena sinar matahari adalah musuh.

Internet, kemudian datang. Saling memperkenalkan keduanya. Anak kampung tau soal kelebihan dan kekurangan anak kota, demikian pula sebaliknya. Tak ada masalah, sampai kemudian dibanding-bandingkan. Yang satu dianggap dan merasa lebih tinggi dibanding yang lain. Kenapa masalah? Karena sesungguhnya keduanya punya kelebihan yang bisa terus diasah untuk kemudian mengisi dunia menjadi lebih baik untuk semua.

Peleburan kemudian terjadi. Anak kampung ingin menjadi anak kota, sepertinya bukan soal baru. Si Doel anak Betawi, Si Kabayan Saba Kota, atau lagu Si Bimbi adalah soal anak kampung yang berusaha untuk menjadi anak kota. Menjadi anak kota, dianggap lebih tinggi harkat dan martabatnya. Sama seperti ketika anak kampung pulang kampung saat Lebaran, jadi kesempatan untuk memamerkan keberhasilannya di kota. Seragam, yang mungkin buat anak kota adalah simbol penjara dan “orba banget” menjadi simbol kebanggaan untuk anak kampung. Sudah bisa memakai seragam baby sitter, polisi, dokter, pilot dan berbagai profesi lainnya. Apalagi kalau sudah bisa jadi pejabat negeri, wah bisa jadi buku kisah sukses yang laris.

Bagaimana dengan anak kota? Anak kota pun mulai masuk kampung. Walaupun masih lebih sering ditanggapi dengan sinis, semakin sering kita menemukan anak kota mulai belajar soal kekayaan kampungnya untuk kemudian dibawa ke kota. Contohnya, di tengah kota kita bisa menemukan rumah makan dengan nuansa pedesaan. Cireng, makanan “kampung” Sunda, bisa jadi hits di kalangan anak kota. Cafe-cafe kekinian yang mengangkat biji kopi kampung dengan cita rasa kopi kampung menjamur di seluruh penjuru kota. Glamping, camping di alam bebas yang glamor karena semua fasilitas sudah disiapkan, juga menjadi tren belakangan ini.

Saat peleburan ini, bentrokan-bentrokan pasti mengiringi. Anak kota dianggap hanya melihat kulitnya saja. Hanya mau foto-foto untuk konten di Instagram. Yang lebih sadisnya lagi, cara pandang anak kota melihat kampung, dianggap sama dengan turis. Berjarak. Demikian pula sebaliknya. Anak kampung dinilai norak, kampungan, dan yang berhasil secara finansial sering disebut OKB (Orang Kaya Baru). You can take the girl out of a village, but you can not take the village out of a girl, kata tulisan di sebuah meme dengan foto salah seorang artis yang dinilai kampungan. Padahal, kampung tak sama dengan kampungan.

Anak-anak kota yang sekarang mendapat pendidikan dua bahasa, Inggris dan Indonesia, mulai lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris. Internet membuat mereka lebih dekat dengan keragaman internasional seperti Kendal Jenner, Kanye West dengan sepatu Yeezynya, label internasional pun semakin akrab karena sering dikenakan Syahrini di akun Instagramnya. Anak kampung melihat ini sebagai hal-hal superfisial yang tak bermanfaat dan buang-buang waktu saja. Daripada nontonin IG Story, lebih baik belajar mendaki gunung dan memasak karena lebih berguna untuk kehidupan. Bahasa Inggris penting tapi Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bangsa.

Untuk orang dewasa, benturan seperti ini sudah bisa diterima untuk kemudian diolah dan disaring, ambil mana yang penting untuk kehidupan masing-masing. Sudah paham tak ada yang lebih baik atau lebih buruk, keduanya sama-sama bisa bermanfaat. Tapi tentunya untuk anak-anak, tanpa bimbingan yang benar, bisa jadi membingungkan. Anak kampung akan merasa terasing dari kemajuan dunia. Anak kota akan merasa tercabut dan melayang dari akarnya.

Apakah anak kota yang bercita-cita ingin menjadi Youtuber lebih rendah nilainya ketimbang anak kampung yang bercita-cita ingin menjadi pemilik Guest House? Apakah menjadi Celebgram adalah soal tampang semata sementara menjadi Pesinden adalah murni mengasah kemampuan? Keduanya, punya tantangan sendiri-sendiri dan punya masa depannya sendiri-sendiri.

Dalam sebuah diskusi dengan klien, terungkap sebuah fakta bahwa semua kampung perlahan menjadi kota. Pangkal Pinang 30 tahun lalu dinilai sebagai kampung dengan satu bioskop bangunan tua, sekarang sudah seperti Jakarta kecil lengkap dengan XXI-nya. 10 tahun yang lalu, kalau berangkat ke Jogja kita bisa menemukan orang Jogja bawa Jco. Sekarang? Jco pun sudah dianggap ketinggalan zaman di Jogja. Uniqlo dan H&M tak lagi eksklusif milik anak kota. Belum lagi kalau kita membahas soal belanja online. Anak kampung sekarang juga bisa beli sepatu Yeezy di Instagram. Belum mampu? Tak perlu khawatir, palsunya ada di pasar malam terdekat.

Di masa peralihan inilah, film Kulari Ke Pantai hadir. Dari judulnya saja jelas merupakan ajakan untuk ke pantai. Ajakan ke kampung. Mengenal kekayaan alam dan budaya kampung. Dalam film ini pantai-pantai indah di pulau Jawa. Kehadiran makhluk-makhluk “kota” di film ini, lebih sering menjadi bahan tertawaan. Sindiran-sindiran akan kelakuan anak kota, bertebaran di film ini.

Sementara anak kampung di film ini ditampilkan sebagai ceria penuh gairah kehidupan dan penuh kebenaran. Hanya di ujung cerita baru ada yang bisa dipelajarinya dari anak kota. Soal makna pertemanan dan estetika.

Film menghibur berdurasi 2 jam ini, bisa ditonton mulai 28 Juni 2018. Kalau anak kota yang nonton bisa jadi akan menertawakan kelakuan dirinya sendiri, sementara kalau anak kampung yang nonton akan menertawakan kelakuan anak kota. Bagaimana kalau anak hibrida yang menonton? Anak kampung yang berpikiran dan memiliki aspirasi menjadi anak kota dan sebaliknya. Pasti lebih menarik untuk didengar pendapatnya.