Sejak dimulai WFH kemudian Ramadan, Lebaran bahkan sampai sekarang, kiriman makanan terus berdatangan. Tujuannya mulai dari sosialisasi sampai memperkenalkan dan mempromosikan dagangannya. Gelombang PHK, pemotongan gaji dan dirumahkan yang sepertinya masih terus sampai sekarang, membuat banyak orang memutar otak untuk mendapatkan tambahan. Berdagang makanan dari rumah menjadi pilihan yang masuk akal. Apalagi kalau masakannya sedap dan memiliki keunikan.

Sejak itu pula, saya mulai mengurangi masak sendiri. Hampir semua makanan dikirim dalam porsi keluarga (+/- 3-4 porsi). Sementara di hunian saya, mentok hanya 2 mulut yang harus diisi. Bisa berminggu-minggu tak membeli makanan, tak masak sendiri dan tak menolak aneka kenikmatan yang tersaji.

Otomatis diet pribadi menjadi kendor. Perut mulai terasa begah, badan terasa berat dan mulut seperti rindu mengunyah sayuran. Ada kesegaran masakan rumah yang hilang. Masakan yang langsung dimakan sesaat setelah dimasak. Ketidaknyamanan ini mencapai puncaknya pada badan yang ‘gremang-gremeng’, sariawan, mata berat dan bangun tidur tak segar.

Akhirnya saya memutuskan untuk membagi-bagi. Setidaknya dalam seminggu ada 2-3 hari saya memasak sendiri dan sisanya makanan kiriman. Sayuran segar kembali masuk ke dalam tubuh saya, selera sop segar yang selalu sukses menyegarkan badan kembali tersaji, gula dan garam tak lagi sebanyak sebelumnya. Dan perlahan badan saya segar lagi. Enteng lagi. Lincah lagi.

Sambil menikmati sop ayam masakan rumahan, saya mencoba mengevaluasi jenis makanan yang paling banyak masuk ke dalam tubuh saya selama ini. Gula, garam, karbohidrat, tepung-tepungan, lemak jahat, menjadi yang paling banyak masuk. Sialnya lagi tak diimbangi dengan kecukupan gizi dan mineral. Ya gimana, perut keburu udah kenyang bahkan kekenyangan.

Terlintas dalam bayangan teman-teman saya yang tinggal di kos-kosan. Kebanyakan minim fasilitas dapur. Otomatis akan selalu membeli makanan di luar, yang saya sebut “makanan asing”. Kenapa asing? Ya karena apa pun label makanannya itu berasal dari dapur yang tak terlihat dan proses memasak yang misterius.

Makanan asing ini bisa berasal dari warung pinggir jalan sampai restoran mewah. Kita sebagai pembeli, tidak pernah melihat atau peduli bagaimana makanan yang kita beli disajikan. Sesekali sepertinya tak mengapa, tapi kalau setiap hari penumpukan apa yang akan terjadi di tubuh kita?

Di tengah pandemi, ketahanan dan imunitas tubuh menjadi sangat penting. Dari mana kedua itu berasal? Yang pertama asupan makanan. Makanan yang kita masukkan ke dalam tubuh supaya organ-organ tubuh bisa bekerja maksimal. Lalu bagaimana dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk menyiapkan masakan sendiri?

Ingatlah selalu prinsip: sebaik-baiknya makanan yang dibeli tetap lebih baik makanan yang dimasak sendiri. Jadi kalau memang di hunian kita tak ada dapur, berinvestasilah di alat pemanas mini yang belakangan mulai banyak di e-comm. Dan sebenarnya hanya dengan 1 rice cooker multi fungsi saja, kita sudah bisa memasak banyak makanan. Harganya mulai dari 300 ribuan sampai jutaan tentunya.

Sejak pandemi ini, pasti banyak berinvestasi untuk melindungi diri. Membeli hand-sanitizer, masker kain, helm, vitamin dan banyak lagi. Mengapa tidak berinvestasi juga di perlengkapan memasak? Merawat yang masuk ke dalam tubuh itu bahkan lebih penting dari menjaga yang di luar tubuh. Harapannya, namanyaa juga investasi, kebiasaan memasak sendiri bisa terus berkembang sehingga suatu hari menjadi kebutuhan utama.

*foto ini ilustrasi aja*

Lalu bagaimana dengan penyimpanan bahan masakan segar? Tidak semua punya kemewahan untuk punya kulkas. Untuk bumbu masakan yang utama seperti bawang merah, bawang putih, memang tidak memerlukan kulkas. Sayuran? Jangan lupa kita punya tukang sayur keliling yang bisa dibeli dalam porsi kecil setiap hari. Bahkan beberapa pedagang sayur keliling juga menjual daging. Sempet terpikir jangan-jangan tukang sayur keliling bermula dari kebutuhan sayuran segar harian. Sebuah ide yang pantas untuk dilestarikan dan dikembangkan.

Mengenai resep-nya, sejak pandemi sepertinya para koki di Youtube sedang kompak memberikan resep yang mudah dan cepat. Masakan rumahan kini sedang jadi primadona pencarian di internet. Beberapa diantaranya Eddy Siswanto, Wilgoz, Devina Hermawan yang banyak memberikan tips & hack memasak.

Bukan tidak mungkin perusahaan/start up penyediaan sayur segar bekerjasama dengan tukang sayur keliling untuk menjajakannya dalam porsi harian. Tapi seperti ayam dan telur, ini harus disambut dengan kebutuhan dan permintaan yang tinggi. Semakin banyak yang masak sendiri, maka semakin besar harapan ketersediaan ini terjadi.

Seorang Youtuber dalam salah satu episodenya sedang “ngerjain” Ibunya dengan bilang “masakan mama kok gak enak?” Tentunya ini disambut ketersinggungan sang Ibu yang kemudian berkata “ah dasar kamu aja, kalo makanan mama dibilang gak enak, maunya g*f****d muluk sehari 3-4 kali”. Sepertinya ini adalah realitas kekinian di mana kita dimanjakan dengan membeli makanan. Sehingga saat lapar yang pertama kali kita ingat adalah membeli, bukan lagi memasak.