Sebelum pandemi, kota Jakarta (dan mulai bermunculan di kota-kota besar lainnya di Nusantara) dipenuhi dengan talkshow, seminar, diskusi dan acara serupa yang sering diselenggarakan secara megah. Dihadiri oleh banyak tokoh populer dan berpengaruh, baik sebagai pembicara, nara sumber, moderator dan peserta. Dikemas secara bergengsi, kekinian dan pastinya dari luaran terlihat sangat mengundang. Seolah belum kekinian kalau belum menghadiri acara-acara tersebut.

“Emang enak di Jakarta, banyak rupa ilmu itu tersedia. Kami di daerah susah banget!” kata teman saya di Makassar mengomentari postingan IG story saya yang sedang berada di sebuah talkshow. Seketika saya merasa seperti privilese. Tapi benarkah?

Karena dalam pengamatan saya, kebanyakan acara ini lebih menyerupai sales pitch yaitu pembicara menjual produk/layanannya. Tentunya dibungkus dengan pengetahuan, ilmu, dan data yang seringnya telah disesuaikan dengan dagangannya. Ilmu yang telah dialterasi sesuai maunya pembicara. Tak jarang strategi menakut-nakuti juga diterapkan sehingga peserta seolah terbuka matanya akan permasalahan hidup yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Solusi (baca: dagangan) yang dipresentasikan pun kemudian terasa sebagai inovasi besar.

Banyak pula seminar yang ramai dihadiri penonton karena menghibur. Apalagi kalau pembicaranya pandai melucu. “Emang yang begini yang disukai peserta” kata teman penyelenggara. Tapi isi dan ilmu yang dibagikan belum tentu semenarik presentasinya. Malah tak jarang miskin konten.

Persona terkenal di media sosial juga sering menjadi pembicara. Mereka diundang dengan harapan banyak peserta yang akan datang. Fan base, followers, groupies datang untuk sebenarnya untuk bertemu dengan idolanya. Tak peduli apa yang dipresentasikan, tepuk tangan panjang pasti akan menutupi presentasinya. Pembicara bangga, peserta puas, penyelenggara lega. Mau apa lagi?

Keadaan ini didukung dengan kenyataan tak selalu orang yang berilmu bisa membagikan pengetahuannya dengan menarik. Banyak yang grogi, atau tak menyusun alur presentasi yang menarik dan mudah ditangkap. Alhasil, peserta cepat bosan dan tak jarang meninggalkan ruangan sebelum selesai.

Tapi ada satu yang pasti terjadi di setiap acara seperti itu: networking. Di banyak titik kita bisa menemukan sekumpulan orang saling mengenalkan diri, berfoto bersama, berbincang seru dan tentunya bertukar kartu nama. Bukan salah kalau banyak yang bilang acara serupa ini ini menitik beratkan pada sosialisasinya. Tentu tidak ada salahnya. Tapi ini sering mengecohkan seolah-olah memberi kesan begitu banyak orang yang haus ilmu.

Bisa dibilang sinis, tapi kadang saya penasaran ada berapa banyak peserta yang benar ingin menyerap ilmu? Benarkah semua yang datang karena ingin mendengarkan ilmu yang dibagikan? Tiket yang habis sering tak bisa mencerminkan keadaan sebenarnya karena banyak tiket yang diberikan gratis untuk pembicara dan sponsor.

Pandemi datang. Acara-acara tatap langsung belum dibolehkan. Semua berpindah ke internet. Termasuk acara berbagi ilmu. IG Live, Zoom, Youtube dan berbagai kanal lainnya dijejali dengan acara serupa. Berbagai ilmu yang diinginkan tinggal cari. Ada yang gratisan ada juga yang berbayar. Dan ini yang menyebabkan saya baru nonton 1 film di Netflix. Sibuk browsing acara berbagi ilmu yang saya gemari.

John Galliano, perancang senior dunia berbagi proses kreasinya lengkap di Youtube. Penonton diajak mengikuti dari DNA sampai eksplorasi via Google Image, diskusi dengan berbagai pihak seperti fotografer, make-up artist, penjahit, videographer, semua dipaparkan nyata. Sampai hasil akhir berupa video presentasi yang pastinya membuat kita semakin menghargai karena diajak mengikuti proses penciptaannya.

Rumah mode Loewe menghadirkan diskusi antara Paco Delgado seorang disainer kostum senior nominator Oscar untuk film Les Miserables & The Danish Girl dengan Gloria Camarero, profesor sejarah seni di Universitas Carlos III Madrid. Mereka berbincang pentingnya pemahaman dan pengetahuan akan sejarah untuk membawanya ke masa kini dan menjadikan identitas.

Tak hanya ilmu, tapi juga tips dan trik untuk berolahraga di rumah, memasak, bercocok tanam, dan limpahan ilmu lainnya sekarang tersedia di internet. Saya tadinya hanya tau Blackpink, dan sekarang saya bisa bilang saya kenal Blackpink. Setidaknya saya tau nama member2nya di luar kepala: Jennie, Rose, Jisu dan Lisa. Saya mencoba mencari tahu asal mula Kpop Star paling berpengaruh di dunia saat ini. Brand-brand yang menyesponsorinya, hobi dan sifat masing-masing member dan bagaimana Kpop Fans Indonesia bersikap. Kompetisi kelas dunia dance cover How You Like That, single Blackpink terbaru, sepertinya akan dimenangkan Indonesia.

Di saat semua hijrah ke internet, bisa dibilang posisi kita saat ini sama: sama-sama di rumah. Kita seolah duduk bersama di kursi terdepan panggung. Pandemi meruntuhkan sekat dan jarak. Semua yang tertuang di internet, bisa dikonsumsi oleh siapa pun di mana pun. Tinggal kita yang benar ingin mencari ilmunya atau tidak.

Ilmu-ilmu yang sekarang berceceran ini tadinya harus dibayar mahal untuk mendapatkannya. Hanya bisa dihadiri kalangan tertentu, dan sering diselenggarakan di lokasi yang tak terjangkau. Sekarang semua tersedia bahkan bisa dikonsumsi kapan pun.

Namun aspek sosialisasi yang tentunya berkurang membuat para pencari network atau penampil, kehilangan gairah. Tidak bisa bertatap muka dengan idola apalagi wefie. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya acara diskusi, seminar, sharing yang diselenggarakan secara online minim jumlah peserta. Apalagi kalau berbayar.

Contoh-contoh penyebaran ilmu di atas hanyalah sebagian kecil saja di keluasan jagad internet. Mereka menanti untuk ditemukan. Ilmu ternyata memang harus dicari. Harus diundang. Oleh kita yang menginginkan dan membutuhkannya.