“Untung aku gak di-PHK”, “untung sekolah anakku masih lancar”, “untung aku tinggal di desa” dan berbagai ungkapan yang sering kita dengar belakangan di tengah pandemi yang semakin mencekik ini.

Ungkapan itu bisa jadi karena ungkapan syukur karena merasa ‘aman’ dan bisa juga ungkapan kesombongan karena merasa ‘di atas’. Kedua alasan itu tentunya sah-sah saja, tapi coba kita telaah lebih dalam, benarkah ada yang beruntung di tengah situasi buntung ini?

Sebuah iklan di masa lalu dengan headline “Kalau Anak Anda Harus Punya Masa Depan, Bukan Dia Saja yang Harus Sekolah” kembali terngiang belakangan ini. Penjelasan akan headline itu adalah ketika hanya segelintir anak yang bisa sekolah, maka di masa depan mereka akan menjadi penopang yang tidak sekolah. Nantinya mereka akan bekerja sama dengan berbagai kalangan, memiliki anak buah, supplier dan sebagainya dengan latar belakang pendidikan yang berbeda. Tidak mungkin bekerja sendiri. Dan kalau orang-orang di sekitarnya sebelumny kurang mendapat fasilitas pendidikan, maka yang beruntung mendapat fasilitas pendidikan pasti akan kewalahan.

Kita pasti sering mendengar bagaimana para pemimpin perusahaan atau organisasi mengeluhkan kelakuan anak buahnya. Tidak disiplin, tidak bertanggung jawab, kurang inisiatif, lamban paham, pemalas, kurang wawasan dan berbagai keluhan lainnya. Atau mengeluhkan supplier yang tidak profesional, tidak tepat waktu, tidak paham tren, dan lain-lain. Ujung-ujungnya membuat kerja para pemimpin menjadi lebih banyak dan usahanya jadi lebih berat untuk maju.

“Kalau mereka pinter mah mereka udah jadi bos kayak kamu” ucapan setengah nasehat yang sering kita dengar ini adalah bentuk pemakluman. Terimalah memang begini situasinya. Dan karena ini pula lah, kemajuan jadi terasa semakin berat terwujud.

Di tengah pandemi ini, PHK masih terus berlangsung, penutupan usaha juga masih terus bergulir, pengurangan gaji belum ada tanda-tanda perbaikan. Tentunya banyak diantara kita yang selamat. Kerjaan masih mengalir, perusahaan masih jalan, gaji belum dipotong dan sebagainya. Benarkah mereka beruntung?

Seorang yang di PHK, akan menjadi tanggungan yang masih bekerja. Misalnya yang kena PHK adalah anak di sebuah keluarga. Maka anak itu akan pulang ke rumah orang tuanya yang masih bekerja. Atau menjadi tanggungan saudara, teman dan sekitarnya yang masih menerima gaji. Atau misalnya yang kena PHK adalah tulang punggung keluarga, maka seluruh anggota keluarga itu akan terdampak. Semakin banyak yang terdampak langsung maupun tidak langsung akhirnya akan berpengaruh pada daya beli. Daya beli yang menurun akan berpengaruh pada dunia usaha.

Cerita lain lagi, tingkat kriminalitas di Bali semakin meningkat. Seorang Youtuber asal Bali yang ke pantai menenteng helmnya sambil berkata ke kamera “sekarang ke pantai nenteng helm nih Gaes, lagi pandemi begini semua bisa dicolong”. Artinya, pun bagi yang keuangan masih aman sehingga bisa jalan-jalan ke Bali, jalan-jalannya tak lagi seaman dan senyaman dulu. Cafe, beach club dan banyak tempat yang tadinya menjadi tujuan wisata, sekarang tutup.

Pemahaman yang sama juga bisa diaplikasikan untuk mereka yang masih menerima gaji full, masih bekerja di perusahaan yang tergolong bebas pengaruh pandemi, dan usaha yang masih terus berjalan. Usaha tak terlepas dari usaha yang lain. Saling membutuhkan, saling berkaitan. Bahkan seorang freelancer yang bebas mandiri pun tak terlepas dari usaha atau perusahaan lain.

Bersyukur itu wajib tapi beruntung sepertinya harus dipikirkan kembali. Seorang teman dari menara gading pun tak lepas dari kekhawatiran. “Makin besar perusahaan, makin besar risikonya, makin besar pinjaman uangnya. Orang luar kirain kita enak masih banyak duit, masalahnya duit kalau dipake terus buat bayar tanpa ada pemasukkan ya abis juga kan” kata seorang teman dari atas menara itu.

Di saat semua sedang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri-sendiri, ada baiknya kita menghidupkan semboyan Pangeran Mangkunagara IMulat sarira angrasa wani, rumangsa melu andarbeni, wajib melu angrungkebi – “berani mawas diri, merasa ikut memiliki, wajib ikut menjaga”.

Tidak ada satu pun yang bisa beruntung saat yang lain buntung.