– sebuah gagasan kecil untuk Bali yang baru –

“Pokoknya abis Lebaran, ke Bali” itu ikrar saya waktu Covid-19 seolah hanya ada di Wuhan. Saat itu, negeri saya sepertinya punya imunitas tinggi sehingga kebal Covid. Sampai kenyataan berkata lain dan menghancurkan bukan saja ikrar saya tadi, tapi juga pulau yang selama ini telah memberikan banyak dalam kehidupan dan pekerjaan saya, Bali.

Selama #dirumahsaja jujur saya tidak rindu keluarga dan teman, saya tidak kangen ngopi dan nongkrong di mall, saya bahkan sudah lupa rasanya ngegym. Tapi saya rindu Bali. Saya rindu bisa berjalan dan berlari pagi di Tjampuhan, makan di warung pantai Petintenget, dan berjalan kaki ke pelosok sampai dikejar anjing Bali yang tak seramah penduduknya. Saya terkenang momen berjalan kaki menyusuri pantai sendirian sambil berbincang dengan diri sendiri. Saya selalu menemukan diri saya sendiri di Bali. “Yes, I miss myself too” jawaban template saya sekarang kalau ada yang menyapa “Hey, I miss you”.

Lebaran usai, rutinitas perlahan dimulai lagi. Hasrat untuk ke Bali perlahan menyapa saya lagi. Namun seketika buyar karena biaya untuk swab test dan PCR yang saat itu menjadi syarat mutlak ke Bali, harganya bisa sama dengan harga tiket. Akal sehat menolak sampai batin saya kembali pasrah mengalah.

Berada di rumah saja membuat saya banyak waktu untuk membaca soal Bali dan perkembangannya. Sementara ini cukuplah untuk mengurangi perihnya kerinduan ini. Koran lokal online menjadi salah satu sarapan saya. Begitu juga Youtuber penduduk lokal yang sering mengabarkan kondisi terkini suatu wilayah.

Dari apa yang saya baca dan tonton, saat ini sebuah perubahan besar sedang terjadi; Bali sepi. Sesepi itu. Situasi yang awalnya dianggap berkah dan bisa merevitalisasi alam Bali, perlahan menjadi bencana. Ilustrasinya begini, saat kita menemukan sebuah café yang sepi pengunjung, sebagai tamu bisa jadi kita sangat menikmatinya dan berharap semoga sepi terus. Tapi tak lama sesudahnya café tersebut bisa dipastikan tutup saking sepinya.

“Gue suka sepinya Bali tapi gak sesepi ini juga sih, di mana-mana tutup, kasian.,..” kata seorang teman anak Jakarta yang sudah lama tinggal di Bali.

Berita buruk sehari-hari seperti hotel dan toko yang tutup di Kawasan Ubud, Seminyak dan Kuta. PHK lebih dari 50% pekerja sektor perhotelan dan potong gaji hingga 60% bagi pekerja yang beruntung masih punya pekerjaan. Penduduk Bali yang mulai putus asa bahkan bunuh diri sambil mengantongi surat PHK. Sopir sewaan yang beralih profesi menjadi tukang pijit. Perginya para pendatang yang selama ini mencari nafkah di Bali. Dan banyak berita lagi yang membuat perasaan ini semakin tak enak dan muram. Puncaknya adalah berita sebuah Rumah Sakit di Sanglah yang mulai kewalahan menerima pasien Covid dan membutuhkan tenaga perawat tambahan.

Berita-berita kondisi terkini Bali yang saya dapatkan sering saya bagikan di akun Twitter. Rupanya banyak membuka mata teman-teman pendatang dan bahkan penduduk setempat. Banyak yang tak menyadari bahwa situasi sekitar tidak setenang hamparan sawah di sore hari. Banyak juga yang mengira bahwa Covid lebih jauh dari mata memandang. Di saat yang bersamaan, lebih banyak lagi penduduk asli yang berbagi keluhan hidupnya sekarang. Pulau yang ternyata baru 30 tahun terakhir ini menikmati industri pariwisata mendadak lumpuh.

Selain berita dan kabar buruk itu, Bali tetap menyimpan banyak cerita baik di internet. Salah satunya adalah Youtuber asli Jogja yang sudah tinggal di Bali selama belasan tahun. Melalui kanal Youtubenya, dia yang bekerja sebagai Make Up Artist pengantin, mendadak kehilangan penghasilan. Calon pengantin dari berbagai negara yang selama ini memakai jasanya untuk foto pre-wed, hilang sama sekali. Dengan jujur dia bilang kini jatuh miskin.

Dengan moto hidup “jangan lupa bersyukur karena bersyukur itu gratiiiis” yang selalu diucapkan di akhir videonya, Youtuber itu kini menggantungkan makanan sehari-hari pada hamparan sawah dan alam di depan kos-kosannya. Memasak daun Genjer yang sering tumbuh diantara tanaman padi, menggoreng Katul (keong sawah), daun Kelor (atau Moringa yang sedang dipuja warga dunia) menjadi menu sehari-harinya.

Dia juga sering berbagi keasikan kehidupan sederhana bertetangga di Bali. Makan Cireng di rumah tetangga, memberikan makan anjing jalanan, berjalan ke pantai terdekat sampai makan Bakso di warung milik tetangga. Buat saya, setidaknya memberikan pemahaman lebih tentang kehidupan Bali dari yang selama ini tidak saya ketahui.

Hadir juga Dewa Komang Yudi Astara, Kepala Desa Tembok di perbatasan Kabupaten Buleleng dan Karangasem yang memberikan harapan pada Pulau Bali. Yudi panggilannya, pada sebuah media menyampaikan niatnya untuk menghidupkan kembali pertanian di desanya. Lahan-lahan yang selama ini ditinggalkan dan ditelantarkan karena warga pindah ke kota untuk melayani turis, akan dihidupkan kembali. Seiring dengan kembalinya warga ke kampung halamannya.

Memberikan harapan bagi warga yang pulang ke desa untuk memulai kehidupan baru yang mungkin tak terpikirkan sebelumnya. Jelas ini bukan perkara mudah. Berjibaku dengan alam jelas berbeda dengan suasana hotel atau café. Melayani kebutuhan ternak jelas berbeda daripada melayani kebutuhan tamu. Tapi kalau gagasan ini berhasil, kita bisa berharap alam Bali akan semakin sejahtera karena kesadaran  bahwa manusia hidup tergantung pada alam dan bukan sebaliknya. Menghidupkan kepercayaan leluhur yang meletakkan penghormatan setinggi-tingginya kepada alam.

Saat sedang menulis ini, saya juga mendapat informasi bahwa di Ubud ada perkebunan yang tadinya menyalurkan sayuran organic untuk berbagai hotel dan restoran, kini membuka untuk warga sekitar mengambil hasil panen secara gratis. Dengan syarat hanya boleh mengambil sayuran untuk kebutuhan hari itu saja. Seandainya kegiatan ini berkembang, akan timbul lagi kesadaran bagi manusia modern Bali bahwa untuk makan tidak harus beli, bisa tinggal petik.

Ketiga cerita di atas bisa jadi kurang mewakili keadaan sesungguhnya dan saya tidak sedang berusaha memberikan solusi, tapi mendadak saya berangan-angan seperti apa Bali yang baru nanti. Bali yang kembali mengutamakan pertanian dan pariwisata Bali ke depan menjadi ramah lingkungan, adalah kiblat yang sesuai dengan zaman. Pariwisata yang dibangun menyesuaikan dengan alam dan penduduk sekitarnya tentu akan menjadi nilai lebih yang sangat tinggi bagi pulau Bali. Bukan tidak mungkin di masa depan, Bali bisa menyeleksi turis yang masuk demi menjaga kelestarian lingkungan, budaya dan adat yang maha agung itu.

Menghormati penduduk setempat sehingga turis tak lagi mencari floating breakfast di infinity pool, tapi sarapan di rumah penduduk dengan sajian asli Bali. Senja tak lagi dinikmati melalui beach club tapi bersama penduduk mengikuti dan menghargai ritual tepi pantai. Turis bisa belajar kegiatan seni dan budaya Bali dengan cara yang sesuai dengan zamannya. Museum-museum yang tersebar di Bali kembali dihidupkan dan menjadi tujuan wisata yang mengasyikkan. Biarlah turis datang karena ingin memahami Bali dan bukan sebaliknya. Rahajeng Rauh!

Dan sejujurnya, kalau ini arah ke depan Bali, saya ingin menjadi bagian darinya.

Sementara angan-angan saya ini terjadi, apa yang bisa kita lakukan sekarang?

Selain pie susu dan sambal matah, tak banyak yang mengetahui bahwa Bali selama ini menghasilkan makanan yang sudah dijual secara online di berbagai e-comm. Ada bumbu Suna Cekuh, Genep, Madu, sampai yang kekinian sosis ayam Betutu. Kreasi seni dan kriya yang memang sudah menjadi bagian dari kehidupan warga Bali pun bertebaran di toko-toko internet. Dengan membeli produk-produk buatan warga Bali asli, semoga bisa memberikan sedikit napas buatan.

Mengumpulkan semua produk-produk asli Bali yang selama ini berceceran di jagad maya itu (aggregate) sehingga memudahkan konsumen untuk mencari dan membeli, sepertinya adalah usaha yang pantas untuk dicoba. Jadi kalau kita kangen Bali atau ingin membantu Bali, tak melulu harus terbang ke sana, tapi bisa juga dengan membeli produk-produk asli Bali yang sudah dikurasi dengan baik. Edukasi berjualan online untuk para pedagang dari mulai foto produk, penulisan, mengemas dan berjualan di media sosial juga bisa semakin ditumbuh kembangkan.

Terakhir saya mendengar kabar Garuda Indonesia akan membuka layanan pengiriman makanan antar pulau. Jadi bukan tak mungkin kita yang di Jakarta bisa membeli Nasi Ayam Kadewatan Ibu Mangku langsung dari Bali dan dibawa oleh armada nasional tersebut. Semoga kabar ini segera terealisasi.

Tumbuh kembangnya pertanian Bali, eco-tourism sebagai arah pembangunan pariwisata Bali, mendukung perniagaan UMKM terpilih di internet adalah angan-angannya. Namun namanya juga angan-angan, ketika saya membagikan tulisan ini untuk dicek kebenarannya kepada seorang teman di Bali, dia berkata “Canggu can’t relate, Seminyak juga dari semalam udah ada party tuh. Yang pake masker pramusajinya doang tamunya mah bebas!”.

Angan-angan ini mungkin hanya akan jadi angan-angan. Untuk saat ini saya cukup puas bisa membagikannya dengan pembaca.